Setiap hari warga Desa Bakti harus mengandalkan air dari sumur dengan air yang keruh atau harus menampung hujan. Pilihan lain, merogoh kantong, untuk membeli air seharga Rp 5000 per 125 liter. Pengeluaran yang berdampak pada perkembangan ekonomi, khususnya peternakan dan pertanian, serta usaha kecil dan mikro di sekitarnya. Sulitnya air bersih membuat pertanian kering dan mati, hingga gagal panen. Hewan ternak pun minim mendapat rumput hijau.
Seorang warga Desa Bakti, Alham Hasan mengaku menghabiskan air bersih kurang lebih sebanyak 300 sampai 500 liter per hari untuk 7 orang anggota keluarganya. Saat kemarau sumur galian kering dan hujan tak kunjung turun, Alham membeli air bersih di mobil tangki keliling. Biaya yang dikeluarkan Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per hari. Hal ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mencuci dan mandi.
Alham bersyukur, kini ada sumur air bersih di wilayah tempatnya tinggal. Apalagi sumur ada di lahan miliknya. “Kami senang dan bersyukur karena bisa berbagi kepada masyarakat sekitar, beban masyarakat berkurang untuk membeli air, untuk cuci dan mandi sangat sangat bermanfaat,” kata Alham.
Memenuhi kebutuhan air bersih menjadi salah satu perhatian PTTEP Indonesia dalam mengedepankan SGDs (Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) nomor 6, yakni tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak. Agar warga dapat meningkatkan kehidupan yang bersih, kesehatan pun dapat terjaga, serta perkembangan ekonomi hingga pertanian dan peternakan dapat terus berkembang.
