“Saya memperkenalkan mereka bukan sekadar untuk dipilih, tapi juga untuk dimintai pertanggungjawabannya jika nanti terpilih dan untuk diawasi kinerjanya, termasuk diri saya sendiri. Ini agar tidak ada yang berkhianat terhadap amanat rakyat dan tidak ada dusta di antara kita. Jika ada yang tidak benar, saya sendiri yang akan memecatnya,” katanya lagi.
Rachmat Gobel mengingatkan bahwa Money Politics masih menjadi gejala umum dalam setiap pemilihan umum. Bahkan sekarang ada sistem paket. Ini sebetulnya paket hemat. Kelihatan besar, tapi yang dipilih harus satu paket mulai dari Caleg DPR-RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Jika dirinci sebetulnya jatuhnya lebih murah. Namun karena digabungkan jadi satu menjadi terlihat besar. Ingat, jangan pilih calon yang membeli suara.
Ia mengingatkan, bahwa suara kita semua akan menentukan nasib bangsa dan negara ke depan. Jadi jangan gadaikan hak politik kita. Orang yang membeli suara adalah orang yang tak bertanggungjawab.
Lebih lanjut Gobel mengatakan, bahwa dalam memilih Caleg yang harus diperhatikan adalah rekam jejaknya. “Apa yang sudah ia kerjakan selama ini. Selain itu, perhatikan juga karakter dan kepribadiannya. Kemudian, perhatikan juga integritasnya. “Itu yang utama,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, Rachmat Gobel kembali mengingatkan bahwa sejak Gorontalo menjadi Provinsi pada tahun 2000 hingga saat ini, ternyata Gorontalo tetap menjadi Provinsi termiskin Kelima di Indonesia. Ini berarti secara proporsi, masyarakat Gorontalo lebih banyak yang miskin dibandingkan dengan Provinsi-provinsi lain di Indonesia.








