“Sekarang ini wisata yang berkembang di desa kami baru sebatas wisata pantai dan belum berkembang ke wisata bahari. Wisata pantai Botutonuo berkembang berkat kerjasama dan dukungan masyarakat, klompok, pelaku usaha, pemerintah desa instansi terakait, akademisi dan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Gorontalo yang melakukan pengabdian Kuliah Kerja Nyata (KKN) termasuk Universitas Negeri Gorontalo yang hampir setiap semester mengirimkan mahasiwanya untuk melakukan pengabdian dan penelitian,” ungkap Alinton.
“Selain itu, ada dukungan berbagai pihak termasuk pengunjung yang mempromosikan lewat postingannya di medsos-medsos, serta kegiatan lembaga pemerintah, komunitas, perusahan dan perorangan yang melakukan acara seremonialnya di Pantai Botutonuo, yang membuat pantai desa kami di kenal masyarakat luas,” tambahnya.
Alinton menjelaskan, keprihatinan terjadinya kerusakan terumbu karang khususnya di Botutonuo diakibatkan berbagai aktivitas destruktif fishing tahun 1990-an sampai dengan awal tahun 2000-an oleh nelayan pendatang, serta kandasnya kapal tongkang yang memuat batu bara terseret-seret arus dan ombak.
“Disamping itu, juga ada aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan dengan melepas jangkar sembarangan telah merusak dan menghilangkan sebagian keindahan terumbu karang di punggung Barrier Reef tersebut dengan meninggalkan hamburan atau patahan karang mati kecoklat-coklatan dan kehitaman,” paparnya.
Senada dengan itu, Aktivis Kelautan, Perikanan dan Pariwisata, yang juga sebagai peserta selam, Gusnar Lubis Ismail menyampaikan, atraksi bawah laut tersebut dibuat untuk memupuk rasa nasionalisme dan patriotisme sesama penyelam dengan kelompok, dalam rangka merayakan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa yang telah mendahului kita sampai titik darah penghabisan.
