Ia menegaskan bahwa dinamika geopolitik dunia, perang dagang, hingga kebijakan tarif antarnegara menjadi tantangan serius yang harus diantisipasi melalui penguatan produksi pangan dalam negeri. Karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan kapasitas sektor pertanian agar Indonesia tidak bergantung pada pasokan pangan dari luar negeri.
Dalam kesempatan tersebut, Gibran juga memberikan apresiasi terhadap langkah reformasi yang dilakukan Kementerian Pertanian, khususnya terkait penyederhanaan regulasi distribusi pupuk bersubsidi yang selama ini menjadi keluhan petani.
“Saya pribadi sangat mengapresiasi langkah pak Mentri pertanian yang telah memangkas sebanyak 145 regulasi yang sebelumnya dinilai menghambat distribusi pupuk subsidi. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mempercepat akses petani terhadap pupuk serta meningkatkan produktivitas sektor pertanian,” ungkap Gibran.
Menurutnya, deregulasi tersebut menjadi langkah penting untuk mempercepat pelayanan kepada petani sekaligus mendorong peningkatan hasil produksi pertanian nasional.
Tak hanya itu, pemerintah pusat juga tengah memperkuat sektor pupuk nasional melalui program revitalisasi dan pembangunan tujuh pabrik pupuk di sejumlah wilayah strategis. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperlancar distribusi pupuk ke berbagai daerah.
“Program tersebut mencakup sejumlah wilayah strategis seperti Palembang, Karawang, Gresik, Bontang, Lhokseumawe, hingga wilayah Papua,” terang Gibran.
Melalui PENAS XVII, pemerintah berharap terbangun kolaborasi yang semakin kuat antara petani, nelayan, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan guna memperkokoh ketahanan pangan nasional di tengah tantangan global yang terus berkembang.
