Saat ini, kata Gobel, pengangguran sedang menjadi keluhan serius masyarakat Gorontalo. “Selama saya menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai Anggota DPR-RI dan selama saya keliling berkampanye, masyarakat selalu mengeluhkan masalah pengangguran. Karena itu, Pemerintah Daerah harus memiliki visi dan pemihakan dalam menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha,” ujarnya.
Rachmat Gobel mengingatkan, Money Politics adalah salah satu sumber lingkaran setan kemiskinan. “Politisi membeli suara. Rakyat menggadaikan suara. Ada jual-beli suara. Rakyat tak bisa lagi menuntut hak politiknya, politisi tak bertanggung jawab lagi pada pemilihnya. Sehingga mekanisme Check and Balance tidak terjadi. Demokrasi menjadi rusak. Semua terjebak pada kepentingan pragmatis masing-masing. Tidak ada lagi yang serius menyelesaikan persoalan rakyat,” sambungnya.
Karena itu, Gobel mengatakan, dirinya datang bukan untuk membeli suara, tapi untuk menawarkan visi, program, dan integritas dirinya. “Saya datang untuk membangun dan menyejahterakan rakyat. Agar rakyat punya duit dan tidak sakit popoji lagi. Jika mau uang, jangan pilih Rachmat Gobel,” katanya. Lalu ia bertanya ke massa yang hadir, “Mau uang atau mau Rachmat Gobel?” Mereka berteriak, “Mau Rachmat Gobel!”
Melalui uang pribadinya, Gobel telah menata Danau Perintis dan memasang lampu di Menara Limboto. Nilainya mencapai puluhan milyar. Hal itu dilakukan untuk membangun pariwisata di Gorontalo sekaligus menciptakan lapangan kerja dan peluang berusaha kepada masyarakat. (0N4L)
