“Bagaimana pengawasan oleh kader posyandu di desa, apakah melakukan pelacakan dan pemantauan terhadap balita yang tidak hadir di posyandu? Bagaimana PMTnya bersumber dari pangan lokal, bukan hanya susu dan tanpa bahan lainnya?” kata Indra.
Lebih lanjut Indra pun berharap, agar masalah itu segera ditangani secara serius hingga tuntas, dan menganggap bahwa program tersebut tidak boleh hanya berjalan “Asal Bapak Senang (ABS)”. Dirinya juga menyerukan keterlibatan Pemerintah Daerah dan Forkopimda dalam memastikan bahwa indeks angka gizi buruk dapat diatasi tanpa menggunakan pendekatan asal-asalan. (Red)








