Dari sederet masalah diatas, banyak perbandingan yang bisa kita teladani. Banyak contoh sejarah tentang jazirah terbaik, salah satunya adalah Yunani yang dirancang 400 tahun sebelum Masehi. Yunani kala itu adalah kota yang mampu mendorong demokrasi dan menyuburkan harmoni. Kalau 2400 tahun yang lalu Yunani bisa seperti itu, kenapa hari ini kita tidak bisa. Kalau manusia sudah bisa mendarat di bulan, lalu kenapa kita tidak mampu memecahkan masalah-masalah yang ada di ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah karena permasalahan ini lebih kompleks atau karena kita tidak pernah belajar dari sejarah? Atau karena kebanyakan dari kita tidak mampu belajar?
Kota Gorontalo ini dikelilingi titik kosmos spiritual yang masih tersisa dari era ketika Islam ditegakkan di tanah ini. Kita bisa mengurutnya dari Ju Panggola, Ta Ilayabe, Pulubungo, Syekh Ali Rahman, Syarifah Fatimah Al Hasani, Syarif Rum Assegaf, Maulana Ahmad, Ta Jaoyibuo, dan masih banyak yang tidak masyhur lainnya. Mereka bukan saja makam semata, nilai mereka ada pada derajat nuansa spiritual. Ada keteladanan ada warisan yang bisa sama-sama kita rasakan hingga kini, yakni warisan kebudayaan Islam yang luar biasa. Tak salah jika Gorontalo dijuluki Serambi Madinah, itu semacam niat, seperti doa. Tentu tradisi niat baik, ritual doa masa depan itu tidak bisa kita singkirkan. Tak ada masa depan tanpa harapan, tak ada hari esok tanpa doa bersama, semua warga ini. Banyak hal yang kita lupa syukuri, fondasi spiritual ini cukup banyak untuk menjadi modal kita bersama.
