Lebih lanjut Gusnar juga menjelaskan, adapun kendala untuk menuju lokasi Barier Reef transplantasi karang itu harus menaiki perahu sekitar 15 menit dari depan tempat wisata Pantai Botutonuo tersebut.
“Itu pun kelompok dan peserta kegiatan monitoring transplantasi karang harus bergantian menggunakan alat selam yang sebagian sudah tidak safety,” ucapnya.
Olehnya itu, Gusnar pun berharap agar kelompok Barrier Reef dan masyarakat Botutonuo akan terus menjaga dan melestarikan ekosistem terumbu karang termasuk biota-biota laut yang dilindungi sebagai aset wisata bahari di perairan desanya tersebut.
“Karena aset wisata bahari ini perlu dipertahankan dan dikembangkan bersama untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Barrier Reef Desa Botutonuo, Alinton Pisuna, mengatakan, potensi wisata di perairan Desa Botutonuo tersebut disamping memiliki spot dengan topografi terumbu karang wall yang banyak, juga diminati oleh wisatawan nasional dan mancanegara.
“Barrier Reef-nya juga menawarkan keindahan sponge salvador dali dan nudibranchia, dan juga berbagai jenis karang lainnya serta ikan hias yang indah. Dan bila saat musim penyu bermigrasi, pengunjung bisa bertemu dengan penyu di Barrier Reef tersebut,” pungkasnya. (Red)
