“Forum ini menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, inovasi, dan membangun jejaring kerja sama. Ada bisnis matching, kemitraan dengan pihak swasta, hingga pengembangan akses pemasaran produk pertanian baik di dalam maupun luar negeri,” kata Tedy.
Menurutnya, FK-P4S juga terus mendorong lahirnya generasi muda pertanian yang kompeten melalui berbagai program peningkatan kapasitas, termasuk peluang magang internasional di Jepang dan Taiwan.
Tedy mengungkapkan bahwa kualitas pelatihan yang dijalankan FK-P4S telah mendapat pengakuan dari pemerintah Jepang melalui skema Specified Skilled Worker (SSW). Program tersebut membuka kesempatan yang lebih luas bagi tenaga kerja Indonesia untuk berkarier secara profesional di sektor pertanian Jepang, bahkan hingga jenjang manajerial.
Ia berharap pengukuhan FK-P4S Provinsi Gorontalo dapat menjadi energi baru dalam mempercepat pengembangan sektor pertanian daerah yang memiliki potensi besar di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan kelautan.
“Melalui forum nasional ini, Gorontalo memiliki kesempatan besar untuk belajar, berjejaring, dan memperkuat pengembangan komoditas unggulan daerah agar mampu menjadi contoh pembangunan pertanian yang maju, mandiri, dan berdaya saing,” ujarnya.
Pelaksanaan Temu Profesi dalam PENAS KTNA XVII menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya bertumpu pada peningkatan produksi semata. Lebih dari itu, kemajuan sektor pangan sangat ditentukan oleh kekuatan kolaborasi, inovasi, penguatan kelembagaan, serta sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang tangguh dan berkelanjutan.
