Welcome to www.definitif.id | Pasti, Jelas dan Terpercaya | Copyright 2022

Jejak Kepemimpinan Sofyan Puhi, Terbentuk Sejak Bangku STN Telaga

Definitif.id, Kabupaten Gorontalo – Kepemimpinan tidak lahir secara tiba-tiba layaknya rumus instan. Ia tumbuh melalui proses panjang, ditempa pengalaman, dan diuji oleh waktu. Pada diri seorang politikus, Sofyan Puhi, proses itu sudah mulai terlihat sejak 1976, ketika ia masih berstatus pelajar di Sekolah Teknik Negeri (STN) Telaga, setara SMP saat itu jauh sebelum arah pembangunan Gorontalo menjadi perbincangan publik.
Di ruang belajar yang sederhana pada masanya, benih karakter kepemimpinan mulai terbentuk. Sikap santun, kecerdasan, serta penghormatan kepada guru dan sesama telah menjadi bagian dari kesehariannya. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar potensi, tetapi fondasi yang terus menguat seiring perjalanan waktu.
Kenangan itu disampaikan Suparman Kai, mantan guru yang pertama kali mengajar Sofyan Puhi saat bertugas di STN Telaga. Ia menjadi saksi awal pembentukan karakter yang kini dikenal luas di ruang publik.
“Sejak awal, sudah terlihat berbeda. Sikapnya santun, menghormati guru dan teman. Itu bukan dibuat-buat, itu bawaan,” tuturnya kepada tim Humas, Senin (23/2).
Meski waktu berlalu puluhan tahun, ingatan tentang muridnya itu kembali muncul dalam sebuah pertemuan tak terduga ketika Sofyan Puhi menjabat Wakil Bupati Gorontalo mendampingi almarhum David Bobihoe. Dalam momen tersebut, justru sang murid yang lebih dahulu menyapa gurunya dengan penuh hormat.
“Pak guru sudah lupa saya? Saya Sofyan, murid bapak dulu,” kenang Suparman, mengulang kalimat yang seketika mengaktifkan kembali memori masa lalu.
Sejak itu, fragmen kenangan masa sekolah kembali tersusun. Sofyan dikenal sebagai siswa berprestasi, khususnya dalam pelajaran aljabar, ilmu alam, dan ilmu ukur—bidang yang menuntut ketajaman logika serta konsistensi berpikir.
“Dia cepat memahami pelajaran, konsisten berprestasi. Bukan hanya pintar, tapi serius,” ujarnya.
Namun bagi Suparman, kecerdasan bukanlah satu-satunya catatan penting. Kerendahan hati Sofyan tetap terjaga, bahkan ketika jabatan dan tanggung jawab publik melekat padanya. Ia pernah berkunjung ke rumah dinas saat Sofyan masih menjadi Wakil Bupati. Di tengah agenda perjalanan dinas ke Manado, Sofyan memilih menunda keberangkatan untuk menyambut gurunya.
“Biasanya jabatan mengubah orang. Tapi pada beliau, tidak. Tetap rendah hati, tetap tersenyum, tetap tahu cara menghormati orang tua,” tambah Suparman.
Di tengah era ketika figur publik kerap diukur dari citra sesaat, kisah ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejati berakar pada karakter yang konsisten. Pada sosok Sofyan Puhi, fondasi itu telah terbangun sejak masa sekolah jauh sebelum ia memegang amanah pemerintahan.

Bagikan: