Demikian pula pada fenomena bunuh diri di Gorontalo. Bunuh diri di Gorontalo telah menjadi peristiwa, semacam contagion kalau kita mengingat istilah yang digunakan ketika pandemi beberapa tahun silam.
Pertanyaannya, kenapa sedemikian cepat angka pertumbuhan kasus? Saya kira ada beberapa sebab ; Pertama, bahwa yang telah memiliki gejala atau katakanlah “niat” itu sudah banyak di Gorontalo. Data dari studi yang dilakukan oleh Emotional Health for All Foundation (EHFA), Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa Gorontalo adalah Povinsi dengan tingkat percobaan bunuh diri kedua tertinggi di Indonesia setelah Sulawesi Barat pada urutan pertama, lalu diikuti Bengkulu, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Riau. Data tersebut menunjukkan bahwa sebelum fenomena “contagion” tahun ini, sebelumnya Gorontalo telah memiliki “banyak potensi” karena masuk peringkat dua untuk percobaan bunuh diri. Bisa saja berarti bahwa apa yang terjadi hari ini, dalam tujuh bulan terakhir ini, adalah “potensi terpendam” di beberapa tahun terakhir.
Kedua, tahun 2022, BPS merilis data mengenai indeks kebahagiaan, Gorontalo berada pada peringkat 7 pada provinsi di indeks kebahagiaan tertinggi. Dari data itu menyebutkan kalau Gorontalo memiliki kekerabatan yang kuat yang menjadi fondasi dari kebahagiaan itu. Tetapi kalau kita melihat data kasus bunuh diri, bisa disimpulkan bahwa kekerabatan atau Ngala’a di Gorontalo sedang “tidak baik-baik saja”. Mengapa? Sebab, dalam struktur Ngala’a, “mestinya” semua anggota dalam Ngala’a “mo’otawa” atau saling kenal, tahu, paham dan mengerti. Setiap tetua/sesepuh atau yang paling senior dalam struktur tahu kondisi tiap anggota, baik di lingkup terbesar maupun sampai terkecil. Kondisi Ngala’a Gorontalo yang cenderung “sedang tidak baik” ini bisa jadi akibat karena faktor interaksi yang menurun antar anggota dalam satu grup, aktor/sesepuh pada masing-masing grup yang tidak lagi dapat mengontrol atau memonitor sepenuhnya kondisi setiap anggota, tingkat literasi setiap anggota dalam grup yang berbeda dan bahkan yang memiliki literasi rendah malah diabaikan serta yang diutamakan hanya yang memiliki literasi tinggi (o sikola, motota, dsbg), serta banyak faktor lainnya. Tentu data dari BPS perlu riset lanjutan yang mendalam khususnya riset sosio-antropologis mengenai kebahagiaan.








