Gobel mengatakan, mayoritas masyarakat Gorontalo menjadi petani dan nelayan. Tanah Gorontalo juga luas. Lalu ia melakukan uji coba menanam padi dan jagung. Hasilnya dua kali lipat lebih banyak daripada yang masyarakat tanam. Ia juga menguji coba menanam singkong. Hasilnya luar biasa, satu batang mencapai 30 kg, padahal umumnya 5 kg atau paling banter 15 kg per batang. “Jadi tanah Gorontalo sangat subur. Petani bisa makmur jika dibuatkan ekosistemnya. Kasih bibit dan pupuk yang bagus. Jadi, APBD harus berpihak kepada petani dan nelayan. Bayangkan satu hektar singkong bisa menghasilkan Rp 450 juta jika harga singkong Rp 1.500 per kg,” katanya.
Lalu Gobel menyimpulkan bahwa salah satu penyebab salah urus itu adalah karena money politics atau di Gorontalo disebut sebagai politik mea-mea atau biu-biu. “Money politics itu membeli suara. Ini tidak bertanggungjawab dan merusak masyarakat,” katanya. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak memilih kandidat yang melakukan money politics. “Kalau minta mea-mea, jangan ke saya. Dan jangan pilih saya,” katanya. Lalu ia bertanya: “Pilih mea-mea atau pilih program?” Massa berseru: “Pilih program!” Ia mengatakan, “Jika ada yang kasih mea-mea, jangan pilih orang tersebut. Orang itu akan mengkhianati Bapak dan Ibu.”
Gobel juga menjelaskan bahwa bansos, sembako, dan bantuan langsung tunai merupakan hak rakyat dan dibeli dengan uang rakyat. “Jadi itu hak Bapak dan Ibu,” katanya. Ia juga menerangkan bahwa semua itu bukan solusi untuk melawan kemiskinan. “Solusi untuk mengatasi kemiskinan adalah dengan menciptakan lapangan kerja dan membuka kesempatan berusaha seluas-luasnya. Bukan dengan bansos,” katanya.
