Roy juga mengkritik sikap GMNI yang dinilai terlalu gegabah dalam menyikapi isu ini. Menurutnya, sebagai mahasiswa, seharusnya GMNI bisa membahas masalah ini melalui kajian ilmiah dengan mengundang KPU, Bawaslu, dan semua pihak terkait. “Daripada membuat suasana panas dan seolah-olah daerah ini akan kiamat jika PSU dilaksanakan, lebih baik duduk bersama dan mencari solusi yang konstruktif,” tegas Roy.
Roy berharap agar semua pihak dapat bersikap lebih bijaksana dan tidak menjadikan isu ini sebagai alat untuk memecah belah. “Kita harus mengedepankan dialog dan transparansi, bukan saling menyudutkan. Mari kita dukung proses demokrasi dengan kepala dingin,” tutup Roy.
Dengan penjelasan ini, Roy Ahmad berharap dapat memberikan perspektif yang lebih seimbang terkait polemik pengurangan anggaran PSU di Gorut, serta mengajak semua pihak untuk menyelesaikan masalah ini secara elegan dan profesional.








