Definitif.id, Gorontalo – Sejumlah sopir truk di Gorontalo mengeluhkan tingginya harga solar yang dijual di sejumlah depot. Keluhan tersebut ramai disampaikan melalui media sosial sebagai bentuk harapan agar pemerintah segera turun tangan melakukan pengawasan terhadap distribusi bahan bakar minyak (BBM).
Dalam unggahan yang beredar, para sopir menyebut harga solar bersubsidi di SPBU Pertamina masih berada di kisaran Rp6.800 per liter. Namun, mereka mengaku harus membeli solar di sejumlah depot dengan harga mencapai sekitar Rp17.000 per liter karena kesulitan memperoleh BBM di SPBU.
Menurut para sopir, kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya biaya operasional angkutan barang. Mereka juga mengaku kerap menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre di SPBU demi mendapatkan solar sesuai harga resmi.
Lamanya antrean, lanjut mereka, membuat waktu kerja menjadi tidak efektif dan mengurangi peluang memperoleh muatan dalam satu hari. Akibatnya, pendapatan sopir ikut terdampak, sementara biaya operasional terus meningkat.
Para sopir berharap pemerintah bersama Pertamina dan instansi terkait dapat memperketat pengawasan terhadap distribusi serta penjualan solar agar tepat sasaran. Mereka juga meminta adanya solusi yang mempermudah akses sopir angkutan barang terhadap solar bersubsidi sesuai harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai keluhan para sopir tersebut maupun penyebab tingginya harga solar yang dijual di sejumlah depot.
