“Jadi lokasinya intake itu 4 kali menyebrangi sungai setelah Polohungo. Nah yang terjadi itu kanal untuk masuknya air baku tertimbun material karena curah hujan tinggi, sehingga erosi kemudian material masuk ke kanal. Dan karena kanal ini sudah tertimbun, maka tidak ada lagi air yang masuk ke pipa transmisi PDAM, pipa transmisi ini pipa yang menuju pengolahan kami yang ada di Bionga,” ungkap Tomy, lewat sambungan telepon seluler.
“Malam senin itu sudah kita tahu ada gangguan sehingga pada pagi harinya kita antisipasi menuju lokasi. Tapi agak susah menuju lokasi karena di pagi itu permukaan air masih tinggi, akhirnya kita menunggu airnya surut dulu. Nah penanganan itu posisi pada jam 5 sore sudah selesai kemarin, cuman persoalannya sudah ada angin terlanjur duluan masuk di pipa, dan kalau angin sudah masuk di pipa, itu air tidak bisa keluar, tidak bisa mengalir, sehingga jebakan-jebakan angin ini kita keluarkan dulu. Tapi posisi tadi malam kira-kira sekitar jam 01.30 Wita, air sudah keluar masuk ke pengolahan, tapi belum maksimal,” sambungnya.
Sehinganya untuk mengantisipasi persoalan tersebut, lanjut Tomy, pihaknya pada sejak kemarin itu telah mengoperasikan 3 unit mobil tangki untuk melayani masyarakat di wilayah Kecamatan Limboto dan Limboto Barat.
“Memang tidak maksimal, karena daerah pelayanan sangat luas sekali. Pelanggan di Limboto itu kurang lebih 7.000 pelanggan, tapi armadanya terbatas. Sehingga kita tadi malam itu cuma mampu sampai pukul 02.30 Wita pelayanannya,” tutur Tomy.








