Welcome to www.definitif.id | Pasti, Jelas dan Terpercaya | Copyright 2022

Eks Ajudan Kritik Konten “Bupati Melapor” Thariq Modanggu, Nilai Hanya Pencitraan Tanpa Dampak Nyata

Mohamad Safitra Rahim. (Foto: Ist)

Definitif.id Gorontalo Utara – Konten video berseri bertajuk “Bupati Melapor” yang rutin diunggah di akun Facebook resmi Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, menuai kritik tajam dari aktivis sosial dan pengamat kebijakan publik, Mohamad Safitra Rahim (MSR). Safitra yang juga merupakan mantan ajudan Thariq menilai, video tersebut lebih menonjolkan pencitraan ketimbang menyampaikan substansi kerja pemerintahan yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Dalam wawancara yang dilakukan pada Minggu, 20 Juli 2025, Safitra menyoroti bahwa video tersebut hanya menampilkan aktivitas simbolik yang kurang menyentuh persoalan riil masyarakat.

“Ini bukan sekadar soal bupati melaporkan sesuatu. Saat hal-hal administratif diubah menjadi konten dengan kesan seolah-olah ada kerja keras, timbul pertanyaan: apakah isinya benar-benar substansial atau hanya gaya-gayaan di media sosial?” ujar Safitra.

Ia mencontohkan salah satu episode bertajuk Bupati Melapor #17 yang menyebut bahwa Bupati baru benar-benar “duduk di kursi bupati” setelah 26 hari pasca pelantikan. Safitra menilai narasi tersebut tidak relevan dengan persoalan pembangunan maupun kesejahteraan masyarakat.

“Terlalu berlebihan. Apa hubungannya belum duduk di kursi bupati dengan percepatan pembangunan? Bahkan disebut kursinya susah diperoleh, seharusnya hal semacam ini tidak perlu dibesar-besarkan. Ada aspek kemanusiaan dan sensitivitas yang mesti dijaga,” tegasnya.

Lebih lanjut, Safitra menyampaikan bahwa sejak episode pertama hingga ke-21, belum ada dampak nyata yang dirasakan masyarakat dari video-video tersebut.

“Semuanya masih sebatas dokumentasi kegiatan. Tidak ada hasil konkret yang bisa dilihat ataupun dirasakan publik,” tandasnya.

Safitra pun menyarankan agar penggunaan media sosial diarahkan untuk menampilkan kerja-kerja pemerintahan yang benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat, seperti bantuan pembangunan rumah bagi warga miskin, pengawasan laut terhadap aktivitas pengeboman ikan, atau penertiban tambang pasir ilegal.

“Kalau memang ingin membuat laporan ke publik, sampaikanlah hasil dan dampaknya secara jelas. Media sosial bukan tempat untuk sekadar memamerkan aktivitas yang belum tentu berdampak. Kalau hanya membangun citra, itu sangat dangkal,” pungkasnya.

Bagikan: