“Saya menyuarakan untuk menantang berdialog ini dengan orang-orang yang cerdas, ilmiah, bagaimana orang akademisi, supaya kita mendapatkan solusi, bukan berdialog pada orang yang sesudah ‘minum’ baru bisa bicara, dan track record-nya LSM ini semua orang sudah tau dan semua orang mencibir persoalan baliho yang itu, sekarang justru dia yang menjelek-jelekan Pak Gubernur”
“Yang kedua, ada yang mengatasnamakan Kesbangpol, La Haula Wala Quawata Illah Billah, kenapa Kesbangpol harus dibawa-bawa dalam persoalan kritik ini, sementara Kesbangpol itu adalah semua OPD yang ada dalam ruang lingkup kepemerintahan dibawah pimpinan Gubernur, kalau kemarin dia adalah Kepala Kesbangpol yang cuma menjabat 8 bulan lalu diganti oleh Gubernur, karena apa, karena tidak memahami soal Kesbangpol, kalau bicara Kesbangpol, saya sejak pembentukan Provinsi ini sampai saya pensiun adalah Kesbang, mau bicara apa soal Kesbang, saya akan tantang itu, bicara soal pembentukan Kesbang berubah jadi Kesbangpol, saya tahu dan saya kebetulan ikuti proses itu”
“Kemudian soal menyesalkan kepemimpinan Pak Gubernur karena Kesbang, coba apa, kita mempertanyakan apa, apakah tahu tugas PJ Gubernur, kemarin PJ Gubernur ketika Rusli Habibie dari Periode 1 ke Periode 2, (Zudan) tidak orang yang mengkritik, padahal dia adalah orang luar daerah, sekarang Pak Hamka yang notabene adalah Penjabat dan dia adalah putra daerah kita, kok harus dijelek-jelekan, cuma karena harus ada kepentingan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu kepada beliau, ini kan pertanyaan benar atau tidak”
