“Kondisi kesehatan mental di Gorontalo sangat membutuhkan perhatian khusus. Bukan hanya anak-anak yang keliru pola asuh, orang dewasa pun banyak yang menghadapi persoalan ini. Kehadiran dokter spesialis jiwa akan sangat membantu dalam membenahi situasi ini,” jelasnya.
Ia juga memberi apresiasi kepada Bone Bolango yang disebut sebagai daerah terdepan di Gorontalo dalam upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
“Selama ini Bone Bolango selalu menjadi contoh. Di mata kami, bahkan di pandangan Kementerian PPPA, daerah ini konsisten menunjukkan keberhasilan dalam memberdayakan perempuan dan melindungi anak,” tambahnya.
Yana mengungkapkan bahwa dua Menteri PPPA dari dua periode terakhir pernah mengunjungi Bone Bolango, bentuk pengakuan atas capaian positif tersebut.
Selain itu, Yana juga menyinggung meningkatnya sorotan publik terkait kasus kekerasan terhadap anak yang viral di media sosial, termasuk kasus terbaru yang melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Gorontalo.
“Kita tidak bisa mengabaikan kasus yang sudah ramai dibicarakan publik itu. Pelatihan hari ini adalah upaya konkret agar penanganan kasus berjalan lebih tepat, bahkan bagi kita yang berada di dalam sistem pemerintahan sekalipun, masih banyak yang harus dipelajari,” paparnya.
Ia menekankan pentingnya memahami posisi korban secara adil dan profesional.
“Tidak semua pihak yang disebut korban benar-benar berada dalam posisi itu. Karena itu, kita harus memahami aturan perlindungan anak yang menetapkan usia anak sampai 19 tahun. Simpati boleh saja membuat kita ikut bersedih, tetapi empati mengharuskan kita menjaga jarak emosional agar penilaian tetap objektif,” tuturnya.








