Untuk itu ia berharap, LDII dapat menjadi mitra strategis PB PERSINAS ASAD untuk membina mental dan spiritual para pesilatnya, “Kami mohon kepada Ketua Umum DPP LDII untuk membina para pesilat kami, agar menjadi pesilat yang menjunjung tinggi karakter luhur, akhlakul karimah, sehingga tidak ada pesilat PERSINAS ASAD yang ketika kalah malah protes dan tidak mau menerima,” ujarnya.
Menanggapi MoU tersebut, Ketua Harian Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI), Benny G Sumarsono mengungkapkan, dalam belajar pencak silat perlu ditekankan mengenai tujuan utamanya, yakni untuk bela diri, bukan menjadikannya sebagai ajang jago-jagoan, “Pendekar tanpa budi pekerti akan menjadi pendekar abal-abal, bahkan menjadi preman-preman,” tekannya.
Ia mengapresiasi nota kesepahaman PB PERSINAS ASAD dengan DPP LDII sebagai upaya menanamkan karakter budi luhur para pesilat PERSINAS ASAD, “Seorang pendekar itu harus memiliki karakter yang luhur, kita perlu pendekar bukan hanya jago dalam silat. Alhamdulillah ada LDII yang bekerja sama dengan PB PERSINAS ASAD untuk membina pesilat,” pungkasnya.
Usai penandatanganan MoU, Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso mengungkapkan bahwa nota kesepahaman antara LDII dengan PB PERSINAS ASAD menjadi realisasi pembangunan karakter profesional religius yang menjadi program prioritas LDII, “MoU ini bagi kami di DPP LDII adalah sesuatu yang sangat penting, karena LDII memiliki delapan program prioritas. Empat dari delapan bidang tersebut adalah pembangunan SDM profesional religius,” ujarnya.
