Welcome to www.definitif.id | Pasti, Jelas dan Terpercaya | Copyright 2022

Dari Bawah Laut Botutonuo, Merah Putih Berkibar, Terumbu Karang Direhabilitasi

Penyelam mengibarkan bendera Merah Putih di tengah kawasan transplantasi terumbu karang Pantai Botutonuo, Bone Bolango, Minggu (16/08/2026). Aksi ini menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 RI yang dirangkaikan dengan upaya pemulihan ekosistem laut dan pelestarian terumbu karang. (Foto: Istimewa)

Definitif.id, Bone Bolango – Bendera Merah Putih berkibar di bawah laut Pantai Wisata Botutonuo, Pangkalan V, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Minggu (16/08/2026). Pengibaran tersebut menjadi bagian dari aksi nasionalisme yang dirangkaikan dengan upaya menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan terumbu karang menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Kegiatan yang diinisiasi Komunitas Selam Diver’s Santuy bersama Kelompok Konservasi (KOMPAK) Barrier Reef itu melibatkan mahasiswa KKN Tematik Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Pemerintah Desa Botutonuo, serta masyarakat setempat.

Sedikitnya 35 peserta terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas anggota Komunitas Selam Diver’s Santuy, KOMPAK Barrier Reef, mahasiswa KKN Tematik UNG, aparat Desa Botutonuo, dan masyarakat sekitar.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi dengan agenda utama pengibaran bendera Merah Putih di bawah laut. Prosesi tersebut berlangsung tertib dan dipimpin para penyelam dari Komunitas Selam Diver’s Santuy di kawasan terumbu karang Botutonuo.

Tak hanya menjadi seremoni memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan aksi pelestarian lingkungan. Para peserta melakukan transplantasi karang untuk membantu memulihkan ekosistem terumbu karang yang mengalami kerusakan di sekitar Pangkalan V.

Selain itu, peserta yang berada di darat dan para penyelam melakukan aksi bersih-bersih atau clean-up. Mereka menyisir kawasan pesisir hingga dasar laut untuk mengumpulkan sampah, terutama sampah plastik yang berpotensi mengancam ekosistem dan biota laut.

Ketua Komunitas Selam Diver’s Santuy, Hidayat Bachtiar, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk nasionalisme yang diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan.

Menurut dia, kolaborasi lintas komunitas, pemerintah desa, mahasiswa, dan masyarakat diharapkan dapat mendorong terciptanya kawasan wisata bahari yang tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga memiliki ekosistem laut yang sehat dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Kelompok Konservasi Barrier Reef, Alinton Pisuna, yang juga mewakili Pemerintah Desa Botutonuo, mengapresiasi antusiasme peserta dalam kegiatan tersebut.
Ia menilai keterlibatan mahasiswa KKN Tematik UNG, pemuda lokal, Komunitas Diver’s Santuy, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian lingkungan di kawasan wisata Botutonuo.

Menurut Alinton, aksi bersih-bersih dan transplantasi karang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan wisatawan agar turut menjaga kebersihan serta kelestarian kawasan pesisir.

Pemerhati kelautan dan wisata bahari yang juga bagian dari Komunitas Selam Diver’s Santuy, Gusnar Lubis Ismail, turut terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Selain membantu mengonsep kegiatan, Gusnar ikut menyelam untuk mengibarkan bendera Merah Putih, melakukan transplantasi karang, serta mengumpulkan sampah plastik di pantai dan dasar laut.

Gusnar mengatakan pengibaran bendera di bawah laut merupakan simbol nasionalisme sekaligus pesan penting mengenai besarnya potensi sektor maritim Indonesia.

“Kami mengibarkan bendera di bawah laut untuk menunjukkan bahwa kejayaan bangsa ini ada di sektor maritim. Namun, kejayaan itu tidak akan berarti jika laut kita dipenuhi sampah plastik. Oleh karena itu, inisiasi gerakan ini agar nasionalisme kita juga diwujudkan dalam bentuk kepedulian lingkungan,” ujar Gusnar setelah menyelesaikan penyelaman.

Ia menyebut Pantai Botutonuo memiliki potensi wisata bahari yang besar, khususnya kawasan Barrier Reef dengan ekosistem terumbu karang yang menjadi habitat berbagai jenis biota laut.

Gusnar menilai keberadaan sampah plastik menjadi salah satu ancaman terhadap ekosistem terumbu karang sekaligus daya tarik wisata bahari. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dikhawatirkan turut berdampak terhadap perekonomian masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya pada sektor pariwisata.

“Sebagai pemerhati kelautan dan wisata bahari, saya melihat langsung bagaimana sampah plastik mengancam bawah laut kita di beberapa perairan laut Gorontalo. Aksi hari ini adalah pemantik. Saya berharap masyarakat, wisatawan dan seluruh pemangku kepentingan tergerak untuk menjaga kebersihan laut secara konsisten, bukan hanya saat momentum perayaan saja,” pungkas Gusnar.

Melalui kegiatan tersebut, para penggagas berharap aksi yang memadukan semangat nasionalisme dan pelestarian lingkungan dapat menjadi contoh bagi destinasi wisata bahari lainnya di Indonesia dalam menjaga kawasan pesisir agar tetap bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Penulis: Ricki Kadir
Bagikan: