Welcome to www.definitif.id | Pasti, Jelas dan Terpercaya | Copyright 2022

Mengapa Mereka yang Pernah Kalah Masih Terpilih Lagi?

Oleh: Dr. Funco Tanipu, M.A (Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo)

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A. (Ist)

Karenanya, maka perlu dirumuskan lagi, apa yang harus dilakukan setelah mendapatkan kesempatan kedua kali ini.

Pertama, bagi sebagian orang pengalaman kalah menyakitkan, tapi sepertinya mereka-mereka tersebut sudah tidak bisa merasakan lagi apa arti sakit tersebut, sebagaimana Raymond Reddington dalam serial Netflix “Blacklist” mengutarakan ; “Bagiku kalah itu adalah pengisi waktuku agar aku bisa terus belajar, hingga pada satu titik, aku selalu tertawa saat kalah”. Tetapi harus dipisahkan kalah saat bertarung di Pilkada, dan kalah saat tidak berhasil mengemban amanah rakyat. Jangan sampai, kesempatan (bisa saja momen terakhir) ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan rakyat.

Kedua, mengapa mereka-mereka yang pernah kalah tersebut berhasil menang dan mendapat kepercayaan (lagi). Sebab, publik berharap tidak kecewa lagi untuk kesekian kalinya, sebagaimana mereka telah kecewa pada periode sebelumnya. Apakah mereka-mereka yang telah kalah ini, mau menyia-nyiakan amanah dan kesempatan ini? Publik ingin setiap periode ada legacy dari setiap kepemimpinan. Legacy yang dimaksud itu dalam kacamata publik sederhana, kalau ada pesta keluarga si kepala daerah datang, jika ada pesan WA segera balas, jika janji segera tuntaskan, dimintai tolong segera ada tindakan, bsntuan lancar, pokoknya yang praktis-praktis dan sederhana. Secara garis besar, bagi pemilih dari kelompok ekonomi menengah-bawah, “bisa makan dan punya tempat tinggal layak” adalah persoalan nyata yang mereka hadapi setiap hari. Isu kesejahteraan merupakan basis bagi kelompok warga saat memberikan pilihan politik. Konsekuensi dari keterkaitan ini adalah munculnya calon-calon pemimpin yang menawarkan program populis. Warga dari kelas ekonomi bawah cenderung menyukai kontestan seperti ini—yang mereka anggap bisa segera menawarkan solusi atas persoalan ekonomi sehari-hari mereka. Mereka-mereka yang telah kalah lalu dan menang, mampu mengelaborasi hal tersebut secara lebih sederhana dalam alam bawah sadar pemilih.

Bagikan: