Ada juga “ali tatiey boyito penu bo pulsa, modungohu tingoliyo“, dan yang unik “ma ilo tohilopa li tatiye ngo kambungu ti pak boti, iyo-iyomo pake pake jas, madelo ma polantikan“.
Ukuran-ukuran kualitatif-subyektif jika masuk ke telinga Caleg pemula lumayan “beken sanang talinga“. Dan, ada “kaidah umum”; harus “ba lucur” dengan “ba siram“. Di sisi lain, “harus jelas”.
Kalo tidak, akan keluar jawaban ancaman pamungkas : “ti tatiey to kambungu boyito mahe nao mao lo caleg uwewo, bo pilele mao latiya, pohulata kode“.
Nah, 1400 jam atau 58 hari itu, akan ada model dan gaya dari “penyintas” politik, yang biasa main “dua kaki, “lima kaki” hingga “kaki saribu”. Yang ilmu tersebut sudah diupdate selama beberapa kali Pilkda dan Pemilu, semakin canggih.
Tapi, Pemilu butuh angka pasti, sangat kuantitatif. Selain ilmu dasar dalam politik lokal harus disesuaikan : “jangan cuma bisa kali-kali, tambah-tambah, dengan kurang-kurang, tapi juga debo harus tahu bagi-bagi”.
Walaupun kategorinya sudah “pragmatis”, tapi itu fakta kontestasi politik pada ranah lokal.
Jika popularitas anda dibawah, apalagi ketersukaan rendah, gagasan anda “taap”, jaringan anda cuma hanya dalam satu marga “baku kanal” itu pun cuma karena “dorang hitung” keluarga. Maka, “resources” untuk cost harus anda siapkan. Butuh energi maksimal dalam 1400 jam atau 58 hari dalam meningkatkan itu.
Waktu 58 hari itu sangat tipis. Dan saya yakin, tidak semua Caleg punya hitungan detail soal jumlah pemilih, nama, alamat, keyakinan pemilih tersebut sudah berapa persen memilih anda, berapa banyak keluarga atau teman yang bisa dia ajak, hingga bagaimana dia mentransfer gagasan anda pada lingkungannya.








