Rachmat Gobel, Ismail Pakaya, dan Tualar Simarmata secara bersama-sama mencabut satu batang singkong. Mereka tak berhasil. Akhirnya dibantu oleh dua orang lagi, sehingga total ada lima orang untuk bisa mencabut satu batang singkong. Akhirnya batang singkong tersebut berhasil dicabut. Agus Mukhlison, dari PT Seruniandal Citramandiri mengaku sempat khawatir panen singkong ini akan gagal.
“Maklum sedang musim Elnino yang kering dan panas. Di Lampung hanya bisa menghasilkan 2-3 kg per batang singkong, sehingga satu hektar hanya menghasilkan 80 ton. Ternyata lahan Gorontalo sangat cocok untuk bertanam singkong,” kata Agus.
Agus menambahkan, satu hektare lahan di Gorontalo bisa menghasilkan 150-200 ton. Namun jika bisa rata-rata 30 kg per batang, katanya, bisa menghasilkan 300 ton per hektare. Sedangkan biaya pengolahan pertanian singkong per hektare hanya Rp 6,4 juta. Jadi keuntungan petani sangat besar. Silakan saja dihitung berapa pendapatannya jika harga per kilogram singkong adalah Rp 1.500. Karena itu, bertani singkong sangat menguntungkan jika dilakukan dengan pupuk yang tepat, lahan yang cocok, dan bibit yang benar.
“Penggunaan pupuk yang baik memang butuh biaya tambahan, namun keuntungannya justru berlipat. Pupuk pembenahan tanah dan dekomposer itu sangat penting,” tandas Agus Mukhlison.
Sementara Rachmat Gobel menjelaskan, yang dibutuhkan sekarang adalah membangun ekosistem pertanian yang sehat dan benar, yaitu ada off taker yang pasti dan benar, ada industri pengolahan, ada lahan, ada pendanaan, dan pupuk yang tepat.








