Welcome to www.definitif.id | Pasti, Jelas dan Terpercaya | Copyright 2022

Rachmat Gobel dan Teten Masduki Sepakat Lindungi UMKM dari Produk Impor

“Ekonomi yang berbasis budaya selalu mengandung filosofi budaya kita dan itu diwariskan dari generasi ke generasi. Sejarahnya sangat panjang. Jika ekonomi berbasis budaya ini punah maka kita akan kehilangan pijakan,” tuturnya.

Karena itu, Gobel meminta kepada pemerintah untuk melarang impor produk ekonomi yang berbasis budaya bangsa, seperti batik, songket, tenun, dan sebagainya. Bahkan, Gobel juga menyebutkan ihwal kasus yang menimpa salah satu jenis sarung produk Pekalongan dan Tegal yang sering disebut sebagai sarung toldem.

Sarung produk UMKM ini diekspor ke negara-negara Afrika, namun mulai ditiru oleh China.

“Jika kita membiarkan ini terus menerus maka pada saatnya industri batik kita akan punah dalam beberapa generasi ke depan. Lalu generasi mendatang tak bisa lagi membatik dan batik menjadi sesuatu yang asing. Kita jangan mengulang kesalahan pada kasus rotan karena membuka keran ekspor rotan asalan dan mematikan sebagian besar industri rotan nasional,” ucap Gobel.

Padahal, sebelumnya Indonesia menjadi eksportir produk kerajinan rotan dari UMKM.

Teten dan Gobel juga berbagi cerita tentang ancaman produk garmen impor terhadap industri garmen skala rumah tangga dan skala kecil. Hal itu mereka saksikan sendiri di sentra-sentra konveksi di Jawa Barat yang mulai kepayahan dalam menghadapi serbuan impor ini.

Keduanya juga sepakat untuk tetap melarang impor pakaian bekas.

“Jika ada pakaian bekas maka itu illegal, karena itu dilarang sejak 2015,” kata Teten.

Lalu Gobel menambahkan, bahwa selalu alasannya agar rakyat bisa membeli barang murah. Tapi industri konveksi yang terancam oleh pakaian bekas juga isinya rakyat. Karena industri konveksi ini industri rumahan.

Bagikan: