Pemilihan ini adalah pemilihan yang bersifat rasional, bukan emosional. Rasionalitas pemilih didasarkan pada kinerja, gagasan dan komitmen dia jika terpilih nanti. Bukan diluar itu. Soal dia pernah berjasa memberi uang, membantu anda dalam hal-hal lain, hingga jika misalnya ada hubungan emosional yang lain, itu adalah pilihan emosional yang bersifat pribadi. Jangan sampai emosi anda mengalahkan rasionalitas anda, sehingga yang terpilih bukan orang yang mampu bertanggung jawab, tapi yang karena hasrat pribadi semata.
Kita sedang memilih orang yang perlu dan paham mengenai tugasnya kelak. Kita butuh orang yang punya power dan pengalaman dalam mengakumulasi aspirasi menjadi program kemaslahatan.
Ini bukan soal 50-500 ribu rupiah. Ini soal pertaruhan daerah kita! Jangan tambah lagi beban berat daerah ini dengan pilihan anda yang emosional itu. Masih ada waktu bagi anda sekalian untuk menelaah, meneliti dan memustukan untuk memilih.
Jangan hanya karena gemerincing rupiah lalu anda biarkan dia seenaknya mengelola daerah ini, sebab jika anda menerima rupiah tersebut, maka sama saja anda membiarkan urusan lima tahun ini akan sia-sia.
Politik bukan sekedar 27 November 2024 saja, politik itu adalah 365 hari x 5 tahun. Partisipasi politik anda jangan hanya sederhanakan saat pilkada. Partisipasi politik itu adalah day to day politics, anda harus bisa mengawasi, memantau. Jika anda salah dan keliru memutuskan, apalagi hanya karena uang, maka uang yang anda terima itu bukan saja sebagai suap, tapi sebagai “ongkos sakit hati” dan “uang air mata”. (*)
