Wabah kepahlawanan imajinatif ini adalah bagian dari ketidakstabilan kebudayaan dan identitas Indonesia dalam pusaran globalisasi. Mewabahnya geliat kepahlawanan imajinatif ini bisa disebut sebagai hibriditas kebudayaan dan identitas. Batas-batas kebudayaan yang mapan dikaburkan dan dibuat tidak stabil oleh hibridasi.
Pada subkultur anak muda, hibriditas ini sangat tampak pada minat konsumsi pada pahlawan super yang dikreasi secara imajinatif seperti oleh DC Comics dan Marvel. Pada titik ini, gaya menjadi aparatus identitas anak muda yang terpenting, dan karena itu menjadi arena hibridasi yang utama. Perbedaan yang riil dan imajinatif bukan lagi sesuatu yang hakiki, namun yang utama adalah soal gaya, tren dan identitas kekinian.
Pahlawan “Salon Politik”
Bagi yang berusia diatas 30 an, memori kepahlawanan pun mulai terkelupas. Memori mereka dijejali oleh gerombolan manusia baru yang tidak memiliki jejak kepahlawanan, dan bahkan lebih banyak jejak kebejatan, namun kini menjadi idola baru dan bahkan diagung-agungkan. Modal rupiah untuk membeli “space” di media dan membiayai “salon” politik telah berhasil membuat banyak warga kita ikut mengidap amnesia kepahlawanan yang hakiki. Banyak diantara warga kita yang lebih menyenangi kisah turun ke got dan marah-marah di hadapan kamera dibanding mengingat serta menghayati memori pahlawan masa lalu yang tewas digantung, ditebas, diasingkan, dan dipenjara. Media berhasil mengupas dan menggantikan pahlawan yang berdarah-darah itu dengan alumnus salon “media” dan “politik”.
