Dalam kasus pembunuhan Vina, konstruksi sosial realitas dapat dilihat dalam berbagai aspek. Pertama, konstruksi realitas tentang identitas pelaku. Apakah Pegi Setiawan benar-benar pelakunya? Atau, dia hanya menjadi korban konstruksi sosial oleh pihak-pihak tertentu?
Kedua, konstruksi realitas tentang kebenaran. Bagaimana kebenaran dalam kasus ini dikonstruksikan? Apakah berdasarkan bukti-bukti yang objektif dan valid? Atau, kebenaran tersebut dikonstruksikan melalui proses yang penuh manipulasi dan rekayasa?
Ketiga, konstruksi realitas tentang keadilan. Apa makna keadilan dalam kasus ini? Apakah keadilan hanya berarti menghukum pelaku yang sebenarnya? Atau, keadilan juga harus mempertimbangkan hak-hak pihak-pihak lain yang mungkin telah dirugikan, seperti terpidana sebelumnya dan keluarga mereka?
Penangkapan Pegi Setiawan memang membuka kembali luka lama keluarga korban dan masyarakat Cirebon. Namun, di sisi lain, kasus ini juga menjadi momentum penting untuk merefleksikan bagaimana hukum bekerja dalam konteks sosial.
Sosiologi Hukum membantu kita untuk memahami bahwa hukum bukan hanya tentang aturan dan norma, tetapi juga tentang hubungan-hubungan sosial dan konstruksi realitas. Dengan memahami kompleksitas ini, kita dapat mendorong reformasi hukum dan sistem peradilan agar lebih adil dan akuntabel.
Penting untuk diingat bahwa kasus ini masih dalam proses hukum. Kita harus menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Kita juga harus terus mengawal proses hukum agar keadilan benar-benar ditegakkan.
