Menurut Rachmat Gobel, donor darah merupakan bentuk kepedulian dan kemauan untuk berkorban untuk menolong nyawa sesama manusia yang sedang kesusahan.
Tanggal 23 Januari, merupakan tanggal yang bertepatan dengan Hari Patriotik. Pada 23 Januari 1942, rakyat Gorontalo melakukan proklamasi kemerdekaan, sehingga lebih dari 3,5 tahun lebih dulu dibandingkan dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
“Jiwa Patriotik, keberanian, sikap merdeka, dan berani menghadapi resiko merupakan karakter orang Gorontalo. Karena itu ketika di tempat-tempat lain, di masa transisi penjajahan antara Belanda dan Jepang memilih menyambut Jepang dan berkolaborasi, rakyat Gorontalo memilih menyatakan merdeka. Jiwa Patriotik inilah yang harus kita jaga agar Gorontalo bisa lebih maju dan sejahtera,” ucap Cucu Raja Hubulo ini.
Karena itu, Rachmat Gobel mengaku kagum dan gembira saat salah seorang kader Partai Nasdem yang ikut mendonorkan darahnya menyatakan, donor darah merupakan bentuk politik “meya-meya” yang sejati.
Karena donor darah ini untuk menyelamatkan nyawa orang, meya-meya adalah bahasa Gorontalo untuk money politics. Meya-meya berasal dari kata merah-merah, yang merupakan warna uang kertas Rp 100 Ribu. Oleh karenanya, money politics sangat merusak nilai-nilai demokrasi dan mendegradasi karakter manusia Gorontalo yang patriotik dan rela berkorban.
“Seperti Almarhum Nani Wartabone yang Patriotik dan rela berkorban sehingga kemudian dikejar dan ditangkap Jepang akibat tindakannya melakukan proklamasi kemerdekaan Gorontalo. Beliau diasingkan dan dipenjara di Manado dan kemudian ke Jawa,” sambungnya.








