“Karena Itu salah satu faktor saya masuk politik, para pendiri Provinsi Gorontalo memimpikan pemekaran Provinsi tersebut untuk mengubah nasib Gorontalo agar menjadi makmur, mandiri, dan maju. Namun kemudian ternyata tidak ada perubahan yang signifikan. Ini karena salah urus oleh pemimpinnya, khususnya dalam 10 tahun belakangan ini,” tegasnya.

“Di saat rakyatnya tetap miskin, justru Provinsi ini pernah melahirkan pejabatnya sebagai salah satu yang terkaya di Indonesia, Karena itu, mari kita semua masyarakat Gorontalo untuk melakukan perubahan. Kita perbaiki segalanya. Kita jadikan Gorontalo sebagai Provinsi yang berkualitas, perbaikan kualitas itu dilakukan di segala bidang, yaitu di Birokrasi, di Pelayanan Publik, di Industri, di produk Pertanian, di Pendidikan, dan sebagainya,” sambung RG.
Ia pun kemudian menunjukkan coklat bermerk Otanaha, nama sebuah Benteng di Gorontalo. “Coklat ini diproduksi dan dipasarkan di Jepang dan Eropa. Tapi bahannya dari Boalemo dan Pohuwato. Pemanisnya pun menggunakan gula aren dari Gorontalo. Dan di sini tertulis nama Gorontalo, Coklat Bar ini dijual dengan harga Rp 50 ribu. Murah atau mahal ??” tanya Gobel. Massa menjawab: “Mahal”. Kemudian ia menukas, “Inilah salah satu bentuk penghargaan terhadap kualitas coklat Gorontalo. Coklat Gorontalo tidak murahan. Kita ingin semua hal dari Gorontalo menjadi berkualitas,” harapnya.
Rachmat Gobel kemudian menerangkan bahwa ia baru saja mendirikan PAUD berstandar internasional di Kabupaten Gorontalo. PAUD yang diberi nama David Bobihoe itu, nama mantan Bupati Gorontalo, diajarkan berbagai hal yang berkualitas: Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Gorontalo, Budi Pekerti, mencintai lingkungan hidup, kebersihan, diperkenalkan dengan imajinasi tentang robotik, kemampuan untuk bekerja sama, dan lain-lain.








