Aktifitas berlari juga sebagai upaya manusia mempertegas diferensiasi dirinya dengan yang lain, tidak ada yang sama. Lari ataupun berlari adalah salah satu cara untuk membedakan itu. Secara umum, jika dipandang dari perspektif antropologis, berlari adalah salah salah satu bentuk ekspresi diri yang memungkinkan individu untuk menciptakan identitas mereka sendiri dan menunjukkan keunikan mereka kepada dunia. Berlari juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan rasa percaya diri, kebahagiaan, dan kesejahteraan.
Bersumbu dari logika Cartesian, salah satu sumbu pengetahuan barat (cogito ergo sum; aku berpikir maka aku ada), maka berlari kekinian bukanlah sekedar berlari, tapi berlari adalah peneguhan identitas diri; “aku berlari maka aku ada”.
Rekayasa Pasar untuk Produksi Tubuh
Berlari sebagaimana penjelasan diatas menjadi arena untuk mempertegas diri agar senantiasa berbeda. Kenapa mesti berbeda, karena naluri dasar manusia ingin selalu unggul dibanding yang lain. Bahwa seorang manusia bisa saja kalah dalam hal-hal yang umum, tapi setiap manusia selalu berusaha “menang” pada hal-hal yang lebih spesifik. Berlari adalah salah satu ruang/wahana untuk menunjukkan keunggulan dalam kontestasi hidup.
“Unggul” dalam kontestasi ini bisa ditunjukkan dengan misalnya tergabung dalam sebuah komunitas lari, menggunakan merek jam tangan Garmin, sepatu Adidas atau Nike hingga merek yang lagi populer dan tentunya dengan harga yang tinggi. Pakaian pun demikian, semakin mahal dan bermerek, disitulah nilai kontestasi tersebut. Bagi produsen dari brand-brand tersebut, hasrast kontestasi dari setiap pelari menjadi “pasar” untuk terus menaikkan produksinya.
