Pada tahap yang lebih lanjut, setiap kompetisi lari apakah hal tersebut adalah Lari Maraton 42 K, 20 K, 10 K hingga 5 K, menjadi arena kontestasi untuk menunjukkan keunggulan diri, bukan saja soal kemampuan fisik, tapi sekaligus unggul secara non fisik. Di atas itu, kontestasi berlanjut pada keikutsertaan pada momen nasional dan bahkan internasional. Semakin keatas, semakin sulit kontestasi.
Jadi, pada konteks kekinian, berlari tidak sekedar siapa yang pertama masuk garis finish dan meraih medali, berlari adalah upaya untuk menggungguli yang lain pada konteks sosio-antropologis.
Sehingga menjadi seorang pelari atau aktifitas berlari menjadi inspirasi, dambaan sekaligus cita-cita. Baik para pria maupun perempuan, identitas yang lebih segar adalah konstruksi baru tentang ganteng dan cantik yang lebih baru. Kegantengan/kecantikan tubuh bukan hanya fenomena biologis semata. Keduanya adalah karya peradaban yang rumit sejarah proses penciptaannya. Keduanya adalah bagian dari tubuh yang menjadi bagian dari atribut sosial dan identitas. Tubuh tidak lagi semata-mata bongkahan daging dan kiloan tulang. Tubuh memiliki muatan simbolis dan kultural. Mulut, bibir, mata, dan lainnya, memberi kesan tak hanya sekedar melengkapi struktur tubuh biologis tapi di balik itu bermain dalam ide dan citra.
Pengembaraan konseptual atas tubuh telah bergeser. Berlari dengan segala pernak-pernik adalah perlakuan tubuh secara spesifik, menjadikan tubuh bagai “berhala”. Bagi seorang Foucault, tubuh merupakan kompleksitas yang ‘rumit’. Tubuh tak sekedar jasad, tapi juga representasi kekuasaan. Foucault meyakini bahwa fenomena tubuh yang sosial bukan lagi pengaruh konsensus, melainkan perwujudan kuasa. Sehingga, kepemilikan atas tubuh oleh pemiliknya tidak lagi bersifat permanen, tetapi dinamis. Selalu ada perasaan ‘kurang’, senantiasa berproses hingga akhirnya terjadi eksploitasi atas tubuh.
