Sebagai penutup, merawat akal sehat bukan saja ditafsirkan dengan mengaduk adonan kebijakan bersama pemerintahan, tapi memanggang api semangat kritis juga perlu untuk terus dilakukan dan dirawat.
Bagaimana Gorontalo kita? Tentu kehadiran Roger di Gorontalo perlu kita lihat juga dari perspektif kritis, tidak sekedar asal tepuk tangan. Apakah kemudian akan bisa melahirkan refleksi mengenai sikap kritis terhadap pemerintahan daerah? Atau kemudian bisa membentuk dan menggerakkan jangkar intelektual lokal dalam mengawasi jalannya pemerintahan? Atau hanya menjadi bagian dari skenario elit yang tujuannya menggerakkan “suara kritis” yang pada akhirnya bermuara pada pembajakan demokrasi itu sendiri? Walllahu a’lam. (*)








