Definitif.id, Bandung – Isu pengelolaan sampah menjadi topik utama dalam pertemuan antara Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, Ridwan Monoarfa, dengan Wali Kota Bandung, Mohammad Farhan, di Bandung.
Keduanya sepakat bahwa persoalan sampah tidak semata urusan teknis kebersihan, melainkan juga mencerminkan tingkat kesadaran, budaya, dan peradaban masyarakat.
Menurut Wali Kota Bandung, penanganan sampah dapat menggambarkan seberapa tinggi kesadaran dan kedisiplinan warga terhadap lingkungannya.
“Cara masyarakat memperlakukan sampah menunjukkan sejauh mana budaya dan kesadaran mereka terhadap peradaban,” ujarnya.
Dalam dialog tersebut, Ridwan Monoarfa menyoroti beberapa aspek penting yang perlu menjadi perhatian bersama. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah merupakan refleksi dari nilai sosial dan etika publik.
Berikut poin-poin yang ia sampaikan:
- Kesadaran Lingkungan – Tindakan membuang sampah sembarangan menandakan lemahnya kepedulian, sementara kebiasaan memilah dan mendaur ulang menunjukkan tanggung jawab sosial yang tinggi.
- Disiplin Sosial – Kondisi ruang publik yang bersih memperlihatkan budaya tertib dan rasa hormat terhadap kepentingan bersama.
- Nilai Ekonomi dan Inovasi – Sampah bisa diubah menjadi sumber ekonomi baru, seperti kompos, energi terbarukan, hingga bahan baku daur ulang yang bernilai.
- Identitas dan Peradaban – Kota yang bersih mencerminkan masyarakat yang berbudaya dan berperadaban tinggi.
Ridwan menekankan bahwa pengelolaan sampah tidak boleh dilihat hanya dari sisi fisik, melainkan juga dari nilai-nilai moral dan sosial yang terkandung di dalamnya.
“Sampah bukan sekadar limbah, tapi simbol budaya dan kualitas masyarakat. Tidak heran bila kebersihan disebut sebagian dari iman,” tegasnya.
Pertemuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja sama antardaerah, khususnya antara Pemerintah Kota Bandung dan DPRD Provinsi Gorontalo, dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih inovatif, partisipatif, dan berkelanjutan.








