HomeNews

Fenomena Bunuh Diri dan Kondisi Ngala’a Gorontalo

Oleh: Funco Tanipu

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A. (Ist)

Ketiga, pengaruh media saya kira hanya pemicu, bukan faktor utama, karena setiap pelaku bunuh diri telah memiliki riwayat “penyerta” (jika kita menggunakan istilah dalam Covid untuk mengkategorikan seseorang itu harus rawat inap.atau mengalami kematian). Penyerta yang dimaksud bisa saja pengaruh pendidikan, ekonomi dan sosial-budaya, hingga kemudian terinspirasi untuk “mencukupkan” usia. Ada beberapa yang mengatakan melalui flyer bahwa “bunuh diri bukan solusi”, tapi bagi pelaku ; “bunuh diri adalah solusi”, sebab pada kondisi yang ia alami, sudah tidak ada lagi solusi atas masalah dan penderitaan yang ia alami. Apalagi dalam lingkungan yang dimana dia terisolasi, hidup sendiri dalam keramaian.

Terkait dengan lingkungan sosial, saya kira fenomena ini menjadi penting untuk merefleksikan secara cepat tentang kondisi Ngala’a kita semua. Sebab dalam kekerabatan Gorontalo yang memiliki banyak “kearifan” lokal, tetapi disodori fakta mengenai fenomena bunuh diri yang semakin lama semakin naik angkanya.

Dalam kekerabatan Gorontalo, ada praktik seperti bilohe, dudula, tolianga, depita dan banyak praktik luhur lainnya, tapi akhir-akhir ini mulai kurang dipraktikkan. Padahal dengan praktik itu, “diyaa ta odungohe hisusawa”, “hipolanga”, “papateya” dan banyak ragam masalah domestik lainnya, karena semua diselesaikan dalam lingkaran kekerabatan masing-masing. Yang domestik dan privat jika tidak bisa diselesaikan secara domestik dan privat akan diambil alih serta menjadi urusan “publik” Ngala’a. Seperti contoh terjadi “papateya”, sesepuh-sesepuh otomatis akan mencari “titik temu” dengan mengidentifikasi “walao lita”, “pam wolo”, “mali wololo molo humbuta to Ngala’a” dan sebagainya, sehingga akan bermuara pada “mali keluarga ta papateya wolemu botiye”.

Bagikan:   
Exit mobile version