Tentu upaya Nani untuk memproklamirkan kemerdekaan pada 194w ini mendapat restu dari pimpinan Partai Nasional Indonesia. Nani sendiri adalah pendiri PNI di Gorontalo pada tahun 1928, sebelumnya ia adalah pendiri Jong Gorontalo pada 1923.
Besar kemungkinan bahwa kebangkitan spirit Nani tentang Soekarno termasuk PNI karena atmosfer Surabaya, dimana Nani pernah bermukim Surabaya pada kurun waktu tahun 1920 an. Di kurun waktu itu, salah satu mentor gerakan kebangsaan Indonesia di Surabaya, tepatnya di Gang Peneleh, adalah H.O.S Tjokroaminoto. Hingga dari Gang Peneleh (rumah Tjokro) tersebut lahirlah Soekarno, Alimin, Musso, Semaun, Darsono, Tan Malaka, hingga Kartosoewirjo.
Sewaktu di Surabaya Nani Wartabone mengikuti pamannya Rasjid Tangahu Wartabone, yang bekerja di Institut Buys Surabaya. Institut Buys Surabaya adalah juga lokasi sekolah Hoogere Burgerschool (HBS) tempat Nani mengenyam pendidikan menengah. Di HBS Surabaya pula, Soekarno pernah bersekolah di tempat itu.
Tjokro sendiri mendatangi Gorontalo selama dua kali, pertama pada tahun 1916 dan kedua pada tahun 1923. Pada kunjungan kedua tahun 1923, Tjokro tinggal di Ipilo di kediaman Qadhi Husin Pou. Di tempat itu, rapat pembentukan dan penggalangan semangat nasionalisme mulai dikuatkan di Gorontalo hingga terbentuklah pengurus Syarikat Islam Gorontalo dengan Ketua Bouti Pakaya dengan dua pembantu Bahu Panigoro (kepala kampung Molosipat) dan Zakaria Saleh Lama (kepala Kampung Kayubulan). Kunjungan inilah yang mulai membakar semangat nasionalisme warga Gorontalo untuk melawan penjajahan.








