Hingga saat ini tercatat 4.882 kasus ISPA, 1.244 diare akut, 298 suspek demam tifoid, serta 303 kasus pneumonia dengan dua kematian.
Selain itu, terdapat 47 kasus DBD dengan dua kematian, 22 suspek campak dengan satu kematian, serta 52 kasus gigitan hewan penular rabies yang mengakibatkan satu kematian.
Perhatian khusus juga diberikan terhadap malaria. Hasil penyelidikan epidemiologi mencatat 116 kasus, padahal Bone Bolango sebelumnya berada dalam kondisi zero report malaria.
“Lonjakan malaria berkaitan dengan mobilitas pekerja tambang yang berasal dari wilayah endemis. Ini perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi status eliminasi malaria di Bone Bolango,” jelas Meyrin.
Menurutnya, persoalan kesehatan tersebut tidak terlepas dari kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat. Sanitasi yang belum optimal, rendahnya penerapan PHBS, kebiasaan membuang sampah sembarangan hingga genangan air menjadi sejumlah faktor yang perlu dibenahi.
Kasus ISPA dan pneumonia juga berkaitan dengan kebiasaan merokok di dalam rumah serta kurangnya ventilasi. Sementara diare dan tifoid antara lain dipengaruhi konsumsi makanan yang tidak higienis.
Untuk rabies, tantangannya mencakup rendahnya vaksinasi hewan penular rabies serta masih adanya warga yang tidak melanjutkan vaksinasi setelah mengalami gigitan.
Meyrin menambahkan, pengelolaan limbah peternakan, penolakan imunisasi dan belum optimalnya Tim Gerak Cepat (TGC) di sejumlah puskesmas juga menjadi bagian yang perlu diperkuat.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone Bolango menargetkan koordinasi lintas sektor dapat mempercepat respons terhadap potensi penularan penyakit sekaligus mendorong masyarakat lebih aktif menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.








