HomeNews

Kekeringan Ancam Sawah Petani di Blok Tanjung, Irigasi Dituduh Hanya Menguntungkan TKD

Definitif.id, Malang – Dusun Bedali Blok Tanjung, Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, tengah dilanda krisis pertanian. Kekeringan melanda sawah-sawah petani akibat aliran irigasi yang diduga dialihkan ke tanah kas desa (TKD) untuk mengairi lahan tebu. Kamis (22/8/2024), para petani setempat mengeluhkan kondisi ini, karena berdampak pada gagalnya panen di musim ketiga tahun ini.

Patimah, seorang petani di Blok Tanjung, menceritakan bahwa kondisi ini bukan hanya terjadi pada satu atau dua petani saja.

“Ada lebih dari sepuluh petani yang mengalami gagal panen di musim ketiga ini. Aliran air yang seharusnya mengalir ke sawah kami, dibendung dan dialirkan ke lahan tebu di tanah kas desa. Akibatnya, sekitar sepuluh bahu lahan petani menjadi kering dan gagal panen,” ungkapnya.

Patimah juga menyatakan bahwa ini merupakan masalah serius yang harus segera diatasi oleh pihak berwenang.

“Kami, warga Bedali, sangat prihatin dengan kondisi ini. Gagal panen terjadi karena ketidakadilan dalam pembagian jatah air. Air hanya dialirkan ke tanah kas desa, sementara sawah petani kekeringan. Kami berharap pihak terkait segera memikirkan nasib para petani yang mengalami kegagalan panen ini. Air irigasi harus dibagi rata, jangan hanya dialirkan ke lahan tebu milik tanah kas desa saja,” tegas Patimah.

Dia juga mempertanyakan siapa yang sebenarnya memiliki lahan tebu di TKD tersebut hingga bisa menguasai aliran air irigasi.

Saat wartawan mencoba menghubungi Kepala Desa Sukorejo untuk mengonfirmasi permasalahan ini, yang bersangkutan tidak dapat ditemui. Namun, Sekretaris Desa (Sekdes) memberikan tanggapan bahwa masalah ini terkait dengan berkurangnya debit air dari Sumber Sira, yang menjadi sumber utama irigasi di wilayah tersebut.

“Karena debit air dari Sumber Sira yang dikelola oleh Dinas Pertanian berkurang, untuk membesarkan aliran air pastinya tidak bisa, karena induknya dari sumber. Sehingga, hasil pertanian juga berkurang,” jelas Sekdes.

Terkait tuduhan bahwa saluran air sengaja dibendung untuk dialirkan ke tanah kas desa, Sekdes menolak tuduhan tersebut.

“Tidak ada saluran air yang dibendung. Itu hanyalah kebiasaan masyarakat yang saling membendung untuk mendapatkan air lebih banyak, seperti kucing-kucingan. Ketika air dialirkan, ada yang membendung dan dialirkan ke lahannya sendiri. Siapa yang paling kuat tidak tidur untuk mengairi lahannya sendiri, itu yang hasil panennya lebih banyak,” pungkasnya.

Hingga saat ini, para petani masih berharap ada tindakan nyata dari pemerintah desa untuk mengatasi masalah kekeringan ini. (Aziz)

Bagikan:   
Exit mobile version