Nah, yang paling kelima ini yang menarik, apakah faktor usia linier dengan pilihan dalam Pilkada? Sepertinya tidak. Klaim bahwa penentu Pilkada adalah generasi milenial dan Gen Z sepertinya tidak linier dengan asumsi bahwa kalangan ini cenderung menyukai dan memilih kandidat yang berusia lebih muda. Pada variabel ini, kalangan milenial dan Gen Z sepertinya mengikuti kaidah kepemimpinan Gorontalo yakni “moodelo”. Moodelo ini bisa berarti sifat yang baik, rekam jejak yang baik dan tentunya bisa mengayomi. Apakah mereka-mereka tersebut adalah yang mmeiliki sifat moodelo? Tidak juga. Tapi mereka berhasil melakukan rebranding atau bahasa kasarnya “daur ulang” setelah brand mereka dianggap gagal saat mereka kalah lalu. Mereka berhasil mendaur ulang profile diri dan merepresentasikan hal tersebut selama kampanye dan hingga hari pencoblosan.
Kepercayaan Publik dan Kesempatan Kedua
Pertanyaannya, lalu setelah kalah berulang-ulang, jatuh bangun, “amper abis” dan semua kesedihan yang telah ditanggung selama ini, hingga pada akhirnya memenangkan hati rakyat untuk mengemban amanah kedepan, apa yang harus dilakukan? Harus diingat bersama, bahwa dibandingkan memilih petahana, dan juga kandidat yang lebih segar, publik lebih memilih mereka-mereka yang pernah memimpin namun pernah gagal, sebab rakyat ingin memberikan kesempatan kedua kepada mereka-mereka diatas untuk membuktikan keinginan dan mimpinya. Ini berarti, kesempatan kedua adalah pertaruhan besar bagi mereka-mereka tersebut, jika gagal lagi, maka akan lebih sakit lagi perasaan publik dan tak segan-segan akan melakukan hukuman politik atas kesedihan kedua kalinya.
