Secara makro tentunya menekan angka kemiskinan ekstrem, menekan laju inflasi, mengurangi angka pengangguran, memperbaiki indeks kesehatan dan pendidikan serta upaya-upaya wajib dan pilihan pemerintah.
Ketiga, bahwa mereka-mereka yang telah terpilih ini dilihat publik bukan sebagai yang terbaik dan ideal, bukan itu. Tapi (bisa saja), mereka adalah figur yang dianggap (masih) bisa diharapkan di antara calon yang tersedia. Karena itu, mewariskan legacy sangatlah penting, apalagi pada kondisi fiskal yang serba terbatas : bayar hutang PEN, belanja aparatur yang tinggi, belum lagi biaya P3K yang harus ditanggung daerah, target dari pusat yang tinggi, pajak yang naik 12 %, upah minimum yang dinaikkan hingga 3.2 juta untuk Gorontalo, dan banyak variabel kompleks lain yang akan menjadi tantangan bagi mereka-mereka yang pernah kalah dan terpilih lagi.
Oleh karena itu, keterpilihan pada 27 November 2024 kemarin bukanlah “kemenangan hakiki”. Ini bukanlah akhir yang diharapkan, atau bagi sebagian kalangan “yang penting menang dulu”. Jika itu logika dasar yang terbangun akibat efuoria kemenangan sehari, maka itulah awal dari gejala rezimentasi yang bisa berujung “kekalahan”. Artinya, menang di Pilkada, kalah di periode kepemimpinan (menang tapi kalah). Sehingga secara kultural, harusnya pada akhir periode nanti ditutup dengan “hepo hiyonga liyo”, bukan “hepo tatadiyawa liyo”.
Sebagai penutup, kepada mereka yang kini telah mendapatkan “kesempatan kedua”, maka pada akhir periode, jika momen “hepo hiyonga liyo” terjadi, bisa selaras dengan salah satu bait pada lagu Forever Young:
