Artinya, setiap yang dikenalkan adalah potensi. Potensi inilah yang harus “digarap” melalui komunikasi interpersonal yang “tidak biasa” bukan normatif. Perlu upaya membangun hubungan yang emosional.
Dalam jaringan sosial, tidak boleh hanya sekedar kenal, tanpa ada ikatan yang kuat. Harus bisa menjalin komunikasi yang aktif, tidak bisa menunggu orang lain yang memperkuat itu.
Karenanya, salah satu cara untuk merawat komunikasi yang interaktif adalah keterampilan puri diatas. Memang terkesan “receh” tapi uang bukan segalanya, tidak semua bisa dibeli. Demikian pula soal kecerdasan intelektual, tidak semua pemilih suka dengan yang omongan visi misi setinggi langit. Banyak pemilih yang lebih suka dengan yang akan dipilihnya dengan keterampilan komunikasi humoris, apa adanya, “baku maso cirita” dan hal-hal yang sederhana.
Kaitannya dengan mutu demokrasi, memang tidak semua caleg yang terpilih diharapkan bisa merepresentasikan gagasan, ide dan aspirasi masyarakat, yang kemudian bisa mengolahnya ke dalam dokumen perencanaan hingga diimplementasikan secara operasional sesuai standar tata kelola pemerintahan yang baik, sampai pada pengawasan berkala secara maksimal.
Pemilih sering memilih atau minimal tertarik dengan caleg yang memiliki ikatan emosional, yang dibangun melalui komunikasi intens dan interaktif. Pemilih suka dengan yang bisa dihubungi kapan saja, rajin balas pesan WhatsApp, tidak ganti nomor saat terpilih. Pemilih lebih nyaman dengan yang mewakili dirinya hadir saat takziah, hundingo (aqiqah), tuna dan beati (sunat dan beat), aruwa dan salawati (doa arwah dan shalawat), pernikahan, hingga kematian. Bagi caleg yang minimal keuangannya, kehadiran sangat perlu, lalu saat hadir diskusi dan ngobrol dengan santai bahkan bisa meramaikan suasana. Sesederhana itu biasanya keinginan pemilih.








