Dan akhirnya RG telah menemukan jalan keluar yang dihadapi Gorontalo. Sejak berdiri menjadi Provinsi pada tahun 2000 hingga saat ini, Gorontalo stabil sebagai Provinsi Termiskin Kelima di Indonesia. Padahal ia mendapati posisi strategis geografi Gorontalo yang berada di tepi Teluk Tomini dan di tepi Laut Sulawesi.
Selain itu, tanah Gorontalo sangat subur dan lautnya kaya ikan, khususnya ikan tuna. Pelabuhan Anggrek berada di Laut Sulawesi sehingga bisa menjadi pintu ekspor terdekat bagi Indonesia ke negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Filipina, Taiwan, bahkan Vietnam.
Dengan visi itu, RG hendak membangun Gorontalo sebagai salah satu Lumbung Pangan Nasional. Ia akan menanamkan investasi Rp. 1,4 Triliun, yang akan menarik investasi tambahan Rp. 5 Triliun hingga Rp 10 Triliun, serta mampu menciptakan lapangan kerja hingga 100 ribu orang.
“Dengan visi ini, Insya Allah Gorontalo akan menjadi Provinsi yang makmur. Dan karena visi ini berjangka panjang maka perlu jaminan keberlanjutannya, yaitu akan diteruskan anak saya,” tegasnya.
Rachmat Gobel menceritakan bahwa sebelum wafat ayahnya berwasiat agar harta yang ia wariskan, yang berupa perusahaan, harus digunakan untuk membangun Gorontalo.
“Cari uang di Jakarta, tapi untungnya bawa ke Gorontalo. Jangan cari uang di Gorontalo lalu untungnya dibawa ke Jakarta. Kedua orangtua saya sudah wafat, hanya dengan melaksanakan wasiatnya itulah semoga bisa membahagiakan kedua orangtua yang sudah berada di sana. Tidak ada upaya lain untuk bisa membahagiakan almarhum dan almarhumah kecuali dengan beramal dan mewujudkan wasiatnya,” ujar Rachmat Gobel.








