Welcome to www.definitif.id | Pasti, Jelas dan Terpercaya | Copyright 2022

The End Of Golkar Gorontalo?

Oleh: Dr. Funco Tanipu., ST., M.A (Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo)

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A. (Ist)

Kedua, calon legislatif untuk Provinsi maupun Kabupaten/Kota ternyata lebih memilih memperkuat basisnya masing-masing, sebab pertarungan di basis masing-masing ternyata lebih ketat. Hal ini terlihat dari tidak liniernya perolehan suara Golkar di Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo yang secara nyata adalah basis pemilih terbesar, tetapi tidak menyumbang suara yang signifikan untuk DPR RI. Ketiga, adanya penurunan signifkan perolehan suara Partai Golkar di Gorontalo Utara yang menjadi basis utama Rusli Habibie karena sempat menjadi Bupati di daerah tersebut, bahkan di DPRD Kabupaten, Golkar kehilangan kursi Wakil Ketua.

Keempat, ketokohan Rusli Habibie harus diakui menurun secara tajam pasca tidak menjabat sebagai Gubernur Gorontalo, padahal baru melepas jabatan selama dua tahun. Demikian pula dengan Idah Syaidah sebagai incumbent di DPR RI yang tidak bisa memperlebar basis politiknya selama menjabat sebagai anggota DPR RI.

Kelima, dukungan infrastruktur partai juga tidak fokus dalam memenangkan Rusli atau Idah, sehingga lebih memilih memperkuat basis masing-masing. Keenam, Kepala Daerah Golkar seperti Walikota Gorontalo, Wakil Bupati Gorontalo dan Wakil Bupati Pohuwato pun lebih memilih berkonsentrasi memenangkan Golkar pada wilayahnya masing-masing, dibandingkan memperkuat posisi suara ke Senayan. Ketujuh, performance Rusli maju ke Gubernur maupun Idah maju ke DPR RI saat 2019 silam berbeda saat maju ke DPR RI, bahkan Rusli yang dikenal “fighter” dalam politik, sepertinya terlihat memilih “yang penting duduk di Senayan” saja dibandingkan menampilkan performa keperkasaan Golkar seperti dalam sejarah politik Gorontalo.

Bagikan: