Definitif.id, Gorontalo – Di tengah suasana duka yang menyelimuti masyarakat Gorontalo atas wafatnya tokoh nasional asal Gorontalo, Dr. Rahmat Gobel, muncul sorotan terhadap kegiatan yang digelar sejumlah pejabat di lingkungan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Gorontalo.
Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat, 10 Juli 2026, saat masyarakat Gorontalo masih berduka dan prosesi pemakaman almarhum Rahmat Gobel tengah berlangsung. Pada waktu yang hampir bersamaan, beredar dokumentasi yang memperlihatkan adanya kegiatan di salah satu kawasan wisata pantai dengan suasana meriah, diiringi musik dan hiburan. Dokumentasi tersebut kemudian memicu beragam reaksi di tengah masyarakat.
Sejumlah pihak menilai waktu pelaksanaan kegiatan tersebut kurang tepat karena bertepatan dengan momentum berkabung atas meninggalnya salah satu putra terbaik Gorontalo yang selama ini dikenal memiliki kontribusi besar bagi pembangunan daerah maupun nasional.
Tokoh pemuda Gorontalo, Frengky Biki, menjadi salah satu pihak yang menyampaikan kritik terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, sebagai aparatur pemerintah, para pejabat seharusnya menunjukkan empati terhadap duka yang dirasakan masyarakat Gorontalo.
“Rahmat Gobel adalah putra daerah terbaik yang telah banyak memberikan kontribusi bagi kemajuan Gorontalo. Jangankan karangan bunga, ucapan belasungkawa saja tidak ada dari kepala dinas. Di saat masyarakat sedang berduka dan keluarga almarhum melaksanakan prosesi pemakaman, justru ada kegiatan yang bernuansa hiburan. Setidaknya pemerintah dapat menunjukkan rasa simpati kepada keluarga almarhum,” ujar Frengky.
Frengky juga meminta Gubernur Gorontalo melakukan evaluasi terhadap jajaran pimpinan dinas apabila kegiatan tersebut dinilai tidak mencerminkan etika dan sensitivitas sosial sebagai aparatur pemerintah.
Menanggapi sorotan tersebut, Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Gorontalo, Mohamad Ridwan Matoka, memberikan klarifikasi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Sabtu, 11 Juli 2026. Ia menegaskan bahwa kegiatan yang menjadi perhatian publik bukanlah pesta, melainkan rapat evaluasi dan tindak lanjut hasil kegiatan yang telah dijadwalkan sejak pekan sebelumnya.
Menurut Ridwan, agenda tersebut sebenarnya telah disusun sebelum kabar wafatnya Rahmat Gobel. Namun pelaksanaannya sempat tertunda karena Kepala Dinas bersama Gubernur Gorontalo menghadiri pertemuan dengan Menteri Pertanian di Jakarta.
“Kegiatan itu sudah direncanakan sejak minggu sebelumnya. Kemarin merupakan rapat evaluasi dan tindak lanjut hasil kegiatan. Memang sempat tertunda karena Pak Kadis bersama Pak Gubernur menghadiri pertemuan dengan Menteri Pertanian di Jakarta, sehingga baru bisa dilaksanakan kemarin,” jelas Ridwan.
Ia juga membantah anggapan bahwa jajaran dinas sengaja menggelar pesta di tengah suasana berkabung. Menurutnya, sebelum agenda dimulai seluruh peserta terlebih dahulu menggelar doa bersama sebagai bentuk penghormatan dan belasungkawa atas wafatnya Rahmat Gobel.
“Bukan pesta. Sebelum kegiatan dimulai, kami terlebih dahulu menggelar doa bersama untuk almarhum Pak Rahmat Gobel. Tidak ada maksud merayakan atau bersenang-senang di tengah duka,” katanya.
Terkait video yang memperlihatkan sejumlah pegawai berjoget, Ridwan menjelaskan suasana tersebut merupakan luapan kegembiraan setelah rangkaian kegiatan nasional yang diikuti instansinya berjalan dengan baik, bukan sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap duka yang sedang dirasakan masyarakat.
“Kalau ada goyang-goyang itu mungkin bentuk euforia teman-teman karena kegiatan yang kami ikuti berhasil dilaksanakan. Bukan untuk mengabaikan atau tidak menghormati almarhum,” ujarnya.
Ridwan menambahkan bahwa seluruh jajaran Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan tetap menaruh rasa hormat kepada almarhum Rahmat Gobel yang dinilainya memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan sektor pertanian di Gorontalo.
“Kami sangat menghormati beliau. Banyak sumbangsih beliau terhadap pembangunan pertanian di Gorontalo. Karena itu kegiatan kami diawali dengan doa bersama sebagai bentuk belasungkawa,” tambahnya.
Meski demikian, Ridwan mengakui bahwa adanya hiburan dalam kegiatan tersebut dapat menimbulkan persepsi yang berbeda di tengah masyarakat. Ia mengatakan pihaknya memahami munculnya kritik dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi agar pelaksanaan kegiatan serupa ke depan lebih memperhatikan situasi dan sensitivitas publik.
