Welcome to www.definitif.id | Pasti, Jelas dan Terpercaya | Copyright 2022

Jabatan

Oleh: Dr. Funco Tanipu., ST., M.A (Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo)

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A. (Ist)

Definitif.id – Selama jabatan ada periodenya, selama itu pula jabatan ada batasnya. Kalau itu saja ada batasnya, kenapa kita melakukan sesuatu yang melampaui batas.

Jabatan bagi sebagian dari kita adalah kemewahan, fasilitas, “rezeki” dan status. Banyak yang sebagian dari kita menganggap bahwa kehormatan itu ada pada jabatan. Tanpa itu, kehormatan itu tidak ada alias sirna.

Maka, banyak dari kita yang menjadikan hidup adalah jabatan. Setiap hari hanya memikirkan jabatan, bagaimana bisa dikejar dan diraih, dan bagaimana pula jabatan itu harus digenggam, dipertahankan, dilanggengkan. Bahkan, jika perlu: diwariskan.

Namun, namanya jabatan yang diserahkan manusia, membuat setengah kaki berada di keburukan, setengahnya di kebaikan. Jika niatnya untuk diri sendiri semata, maka kemungkinan arahnya menjadi buruk. Jika diniatkan untuk kemaslahatan, maka kemungkinan akan menjadi baik.

Mengejar jabatan tak membuat kita menjadi mulia, jika jabatan itu tdk memberi manfaat bagi orang lain. Jika sesuatu sudah dikejar, maka setengah niatnya sudah tercemar. Begitu pula yang kecewa tak dapat jabatan, niatnya pun sudah keropos.

Tanpa menjabat pun tak lantas kita tidak akan mulia juga. Sebab, masih banyak ladang untuk beramal dan berkarya, menjadi wahana untuk mencetak amal jariyah, jika niat dan caranya baik serta benar.

Menjabat dengan cara yang baik pun belum tentu membawa kemasalahatan jika bukan dengan cara yang benar. Sebab, cara yang baik belum tentu hasilnya benar, namun cara yang benar sudah pasti baik dan membawa kebaikan.

Bagikan: