Lalu ia mengundang tiga petani. “Berapa hasil panennya untuk satu hektar?” tanya Gobel. Lalu salah satunya menjawab, “Dua Ton.” Petani satu lagi menjawab, “Tiga Ton.” Yang satu lagi menjawab, “Tiga Ton”. “Sejak 20 tahun lalu?” tanya Gobel lagi. “Ya, sejak 20 tahun lalu,” jawab mereka.
Gobel kemudian menjelaskan, “Hasil uji coba saya hasilnya 10 sampai 12 ton per hektar untuk padi dan jagung. Ini bisa terjadi karena menggunakan pupuk dan bibit yang berkualitas. Juga menggunakan teknologi dan cara bercocok tanam yang baik. Mestinya itu yang dilakukan Pemerintah Provinsi. Anggarannya harus diprioritaskan untuk Pertanian dan Kelautan serta UMKM,” sambungnya.
Karena itu, kata Gobel, jika Gorontalo tetap miskin bukan karena tanah Gorontalo yang miskin. “Tapi karena salah urus,” katanya. Untuk itu, ia mengajukan Visi 2051 untuk membangun Gorontalo untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Gorontalo. Mulai dari investasi pembangunan pelabuhan, pembangunan industri, pembangunan pertanian dan kelautan, pengembangan UMKM, dan pembangunan sumberdaya manusia. Selain itu, juga membuka lapangan kerja untuk 100 ribu orang.
Namun bagi RG, hal itu saja belum cukup. “Kita harus membangun jiwanya, semangatnya, spiritnya,” katanya. Salah satunya dengan membangun dan membangkitkan rasa bangga dan percaya diri terhadap identitas, jati diri, dan budaya Gorontalo.
Sebelum ini, ia sudah terlibat dalam pelestarian dan pengembangan adat istiadat Gorontalo. Ia juga ikut membangkitkan dan mempromosikan kain karawo. Ia juga menghidupkan Menara Limboto sehingga menjadi kebanggaan rakyat Gorontalo, menata Danau Perintis, menata kawasan Suku Bajo di Torosiaje, menghidupkan Pantai Bolihutuo, penataan Pantai Tamendao, dan sebagainya.







