HomeNews

Mengapa Mereka yang Pernah Kalah Masih Terpilih Lagi?

Oleh: Dr. Funco Tanipu, M.A (Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo)

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A. (Ist)

Bisa jadi, kalau mereka kalah lagi di Pilkada 2024 ini, mereka akan tutup buku politik, sebab usia biologis mereka tak muda lagi. Untungnya, mereka terpilih lagi. Artinya, keterpilihan tidak linier dengan usia, bahwa jumlah pemilih muda (milenial dan Gen Z) yang dominan bahkan lebih dari 50 % pemilih, rupanya tidak serta merta menjatuhkan pilihan pada yang sebaya, atau masih muda.

Mengapa Mereka Masih Dipercaya?

Lalu apa yang bisa dipelajari dari mereka itu? Mereka terpilih karena berbagai faktor ; Pertama, mereka belajar dan merefleksikan betul bagaimana mereka kalau lalu, apa yang harus diperbaiki dan termasuk akan berkawan dengan siapa untuk menang. Kedua, mereka adalah muara dari harapan rakyat untuk memperbaiki daerah setelah kekecewaan berulang-ulang pada periode kepemimpinan sebelumnya, mereka dianggap sebagai anti tesis petahana. Ketiga, publik masih merekam dan mencoba membandingkan secara antar apa “yang baik” dari periode kepemimpinan mereka lalu dengan petanaha yang ada serta penantang baru. Publik sepertinya tidak ingin “gambling” dengan wajah baru ataupun yang belum ada bukti. Hal lain yang bisa dipelajari yakni bahwa kepuasan publik terhadap petahana (incumbent) sepertinya kurang memuaskan, sehingga diantara calon yang tersedia, memori public masih memilih mereka yang pernah memimpin dan ingin memberikan kesempatan untuk membuktikan mimpi dan keinginannya.

Keempat, karena menganggap sebagai laga terakhir dalam rentang usia biologis, mereka telah menghujamkan keyakinan dalam batin untuk “tootutuwa” dan “toopateya”. Pada dua semangat tersebut, doa mereka “malooma hulungo”. Kelima, sikap “tootutuwa” dan “toopateya” inilah terpatri pula pada tim pemenangan mereka-mereka tersebut, mereka lebih gigih dan bahkan ideologis karena tidak ingin merasakan lagi pedihnya kalah secara politik. Dari kedua sikap tersebutlah jiwa korsa (semangat daya juang atas dasar persamaan rasa persaudaraan, persahabatan, dan kekompakan) tim terbentuk lebih solid dan gigih dibandingkan tim-tim lain.

Bagikan:   
Exit mobile version