Definitif.id, Opini – “Forever young, I want to be forever young. Do you really want to live forever, forever and ever?. Forever young, I want to be forever young. Do you really want to live forever? Forever young.”
Lantunan Forever Young–Alphaville sungguh pas! Lagu ini lagi hype dalam satu tahun terakhir ini. Walaupun dikreasi tahun 1984, tapi lagu ini menjadi tren di Tiktok maupun Instagram, hampir semua konten menggunakan lagu ini sebagai pengiring. Forever young artinya “selamanya muda” merupakan tren yang menggambarkan seseorang ingin terus muda atau telah kehilangan masa mudanya. Lagu ini setidaknya telah mengaburkan soal usia, generasi dan paling tidak batas tua-muda. Banyak yang tak sadar ketika lagu ini selalu menjadi FYP di Tiktok, lambat laun memorinya yang biner soal tua vs muda tak lagi relevan. Semua menjadi muda, semua ingin muda. Kalau kata beberapa kalangan, “biar tua yang penting masih basantan”, artinya “basantan” asih bisa dikategorikan muda, kuat dan prima.
Lalu hubungannya apa dengan tulisan ini, utamanya dengan judul ‘Orang-orang Kalah”?. Kita harus periksa dengan seksama bahwa yang terpilih hari ini adalah politisi yang tak muda lagi. Mulai dari dari nasional misalnya, Prabowo terpilih menjadi Presiden setelah tiga kali kalah dalam Pilpres. Usianya pun sudah 73 tahun.
Di Gorontalo pun demikian, orang-orang yang telah kalah berulang-ulang, hampir kehabisan nafas karena berusia senja. Gusnar Ismail contohnya, ia kalah tahun 2011 pada Pemilihan Gubernur, usianya sudah memasuki 65 tahun. Sofyan Puhi juga pernah kalah di Pilkada Kabupaten Gorontalo, usianya 61 tahun. Adhan kalah dua kali pada Pilwako, usianya 66 tahun. Roni Imran juga pernah kalah di Gorontalo Utara, usianya barusan masuk 57 tahun. Rum Pagau pernah kalah di Pilkada Boalemo, mencoba jalur legislatif juga kalah, kini usianya 63 tahun. Hingga Ismet Mile yang paling banyak menorehkan prestasi kalah di Bone Bolango. Usianya pun tertua yakni 75 tahun.
