“Areal persawahan di desa ini sebagian rusak akibat diterjang luapan air sungai dari DAS Ilangata yang mengalami pendangkalan. Selain itu infrastruktur jalan tani juga yang selama ini dimanfaatkan warga, sudah tidak bisa digunakan lagi akibat tertutup lumpur tebal,” ucap Rachmat Gobel.
Situasi tersebut tentu saja akan mengancam aktivitas di sektor pertanian. Areal persawahan sulit ditanami dan saat musim panen tiba, petani dikhawatirkan mengalami kesulitan untuk mengangkut hasilnya.
“Saya turun bersama Pimpinan Balai Sungai (Kasatker O&P) untuk segera menjawab aspirasi masyarakat, mengingat percepatan pengerukan DAS Ilangata akan dilakukan. Alat berat sudah tersedia di lokasi. Saya mendorong Pemerintah Daerah dan pihak Balai Wilayah Sungai Gorontalo untuk bersinergi mempercepat kegiatan tersebut,” ujarnya.
Menurut RG, ia akan memberi perhatian khusus, termasuk pemikiran sesuai visi 2051 yang dirancangnya, dalam upaya membangun sektor pertanian melalui lahan perkebunan yang ada di Gorontalo agar para petani bisa lebih sejahtera lagi.
“Saya berharap, akan ada ekosistem pertanian yang dibangun dengan menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan, sehingga peningkatan produktivitas pertanian dapat tercapai optimal secara berkesinambungan dan akan mendorong tumbuhnya industri hilir karena tingginya produksi komoditas seperti padi dan jagung yang tentunya akan menarik investor untuk datang ke Gorontalo dan mengelola Sumber Daya Alam kita yang besar,” pungkasnya. (0N4L)
