Di sepanjang jalan tersebut, Gobel juga menemukan sejumlah poster dari Caleg lain yang dipaku di pohon. Namun ia tak memiliki kewenangan untuk mencopot poster yang bukan dirinya. Ia hanya mencopot poster yang bergambar dirinya saja.
Menurutnya, tindakannya bukan bermaksud untuk ditiru yang lain atau agar Bawaslu dan KPU melakukan langkah tertentu. Ia hanya mencoba untuk mematuhi aturan dan etika saja. “Ini juga sekaligus instrospeksi diri dan relawan yang bersemangat,” katanya.
Menurut Rachmat Gobel, Pemilu dan Kampanye Pemilu adalah sebuah kontestasi gagasan dan karakter para kandidat dalam berbangsa dan bernegara.
“Ini bukan sekedar politik, tapi juga budaya dan etika. Dalam pemilu kita bisa mengukur, ada di level mana suatu bangsa. Karena itu, kemenangan bukanlah satu-satunya yang hendak dicapai. Karena Pemilu dan Kampanye Pemilu hanyalah satu etape perjuangan Bangsa dan Negara untuk mencapai cita-citanya. Jadi ada banyak hal yang bergumul dalam proses ini,” sambungnya lagi.
Dalam kampanyenya, Rachmat Gobel selalu melakukan edukasi kepada publik tentang etika politik. Seperti soal Money Politics. Menurutnya, Money Politics sangat merendahkan harkat dan martabat manusia.
“Karena manusia lahir itu sudah mulia. Bagi muslim, saat lahir dan meninggal, akan diazankan di telinga kanan dan diqomatkan di telinga kiri. Jadi Tuhan sudah memuliakan kita, lalu mengapa kita merendahkannya dengan Duit yang nilainya tak cukup untuk membeli satu liter beras jika uang tersebut dibagi per hari untuk lima tahun. Rakyat bukan komoditas politik yang hak politiknya diperjualbelikan tiap lima tahun,” tandasnya. (0N4L)








