Kesemuanya mesti melakukan yang bersifat extra ordinary karena banyak yang kurang dan bolong-bolong di Gorontalo saat ini. Gorontalo dilingkupi masalah yang bersifat extra ordinary pula.
Amanah yang akan mereka pikul pada periode 2024-2029 adalah harapan nyawa dan jiwa. Ini bukan persoalan elektoral lagi. Apalagi soal bagaimana memanfaatkan posisi di Senayan untuk kemudian mencoba peruntungan pada pemilihan eksekutif, apa itu bupati/walikota atau gubernur nanti. Bukan itu. Ini soal pembuktian janji.
Tentu bagi di antara mereka bertujuh ada yang bercita-cita masuk ke kamar eksekutif pada periode berikut, itu soal yang lumrah. Namun, buktikan dulu apa yang telah diperbuat, apa karya yang telah dicetak, dan apa yang telah membuat rakyat Gorontalo bangga.
Dan, bisa saja, jika taka da lagi harapan bagi ruh serta jiwa-jiwa Gorontalo kepada mereka bertujuh, maka hidup harus terus dijalani. Bukan dengan terus berharap tanpa kepastian, tapi bagaimana mengelola kekecewaan yang terus berulang sehingga kita tidak mewariskan generasi yang pesimis.
Tentu saja, selain memaksakan dan menagih agar mereka bisa lebih keras lagi bekerja, kita mesti selipkan sekuntum doa, agar mereka bertujuh bisa amanah, tidak lupa pada janji. Atau bagi yang tidak pernah berjanji, lakukanlah apa yang tidak membuat ruh-ruh rakyat Gorontalo menyesal telah memilih.
Penyesalann ruh itu tentu akan berkonsekuensi pada diri masing-masing. Dalam bahasa Gorontalo disebut “alo lo janji”, dan disambung “mapilo tatadiyawa lo rakyati”, sehingga pada akhirnya bukan mencetak “ilomata” yang bisa diraih, tapi “pohumato” yang akan didapatkan. Semoga setiap dari mereka terberkahi selalu, agar dijauhkan dari yang disebut “pohumato”. []
